Berpegangan Teguh Pada Tali Allah

Sebuah Refleksi Dalam Praktik Gerakan Dakwah

Gambar Berpegangan Teguh Pada Tali Allah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran [3]: 103)

Penggalan ayat di atas bisa memban­tu kita untuk me­lakukan refleksi perja­lanan sebagai seorang muslim setiap saat, termasuk saat kita akan memasuki pergan­tian tahun ini. Secara garis besar ayat itu mengajak kita untuk selalu bertanya sudahkah kita selalu berpegang teguh pada tali Allah?

Asbabun nuzul ayat tersebut adalah adanya perse­lisihan antar umat Islam yang hampir memporakpo­randakan ukhuwah islamiyah yang telah dibangun Ra­sulullah. Dulu sebelum hijrah di Madinah terdapat dua suku, kaum Aus dan Kahzraj, yang terus bermusuh­an. Setelah kehadiran Nabi di Madinah dua suku tersebut dapat disatukan menjadi bersaud­ara dalam bingkai u­khuwah Islamiyah. Namun pada suatu saat timbul per­selisihan diantar kedua suku tersebut sehingga hampir terjadi tawuran antar mereka. Turunlah ayat di atas yang menyeru mereka agar tetap berpegang teguh pada tali Allah dengan persatuan, jangan terus bertengkar seperti jaman jahiliyah.

Makna wa’tashimuu bi hablillaahi (Artinya: Dan berpegang­lah kamu semuanya kepada tali Allah), Pang­kal ayat ini menyerukan agar setiap muk­min ber­pegang teguh pada hablillaah (tali Allah). Yang di­maksud dengan tali Allah menurut al-Baydlawi dalam kitab tafsirnya adalah agama Islam atau kitab-Nya. De­ngan kata lain berpegang teguh pada tali Allah, ber­arti berpedoman hidup pada al-Qur`an.

Kata “jamii’an” berkedudukan sebagai keterangan keadaan yang diperintah oleh kalimat wa’tashimuu. Maknanya bisa bersama-sama (berjamaah) dan bisa ju­ga secara totalitas. Dengan demikian dari peng­galan ayat tersebut, setidaknya menyiratkan ada dua refleksi yang bisa dilakukan. Yaitu re­fleksi berkaitan dengan kebersama­an dan refleksi berkaitan dengan masalah totalitas keislaman.

1. Renungan atas kebersamaan

Istilah “jamii’an” bisa bermakna ber­sa­ma-sama, se­jalan dengan sabda Rasulullah SAW ber­sabda: “Hen­daklah kamu berjamaah. Sesunguhnya serigala itu me­makan hewan yang memisahkan diri.” (HR. Ibn Hibban).

Secara umum terdapat tiga bentuk kebersamaan, yaitu kerumunan, gerombolan, dan gerakan. Kerumun­an ha­nyalah kebersamaan dalam masalah waktu dan tempat yang bisa diombang-ambingkan dan dipecah belah oleh isu atau kejadian tertentu. Gerombolan ada­lah ke­bersamaan yang dibangun atas dasar solidar­itas. Se­dang gerakan adalah kebersamaan yang dibangun atas dasar tujuan yang sama, dan tujuan tersebut mela­hir­kan program-program untuk mencapai tujuan. Pengertian demikian bisa menjadi bahan renungan untuk memahami apakah kebersamaan kita di persyarikatan selama ini merupakan gerakan, gerombolan, atau sekedar kerumunan.

Selanjutnya berdasarkan ada tidaknya tujuan bersama, saya membagi kebersa­maan menjadi dua jenis. Pertama, keber­samaan yang bersifat internal memiliki tujuan bersama. Kedua, kebersamaan yang bersifat eksternal tak memi­liki tujuan bersama. Perbedaan jenis ini akan menentukan bagaimana seharusnya kebersamaan dilakukan.

Kebersamaan internal dilakukan dengan to­long me­nolong da­lam mengerjakan kebajikan dan taqwa, yaitu melaksana­kan perintah Allah dan menja­uhi larangan Allah. Masing-masing komponen saling dukung untuk mencapai satu tujuan yang disepa­kati bersama. Dalam hal ini makna “walaa tafarraqu” berarti jangan jalan sendiri- sendiri.

Kebersamaan secara eksternal, yaitu jika tak ada ru­musan tujuan yang sama, dilakukan dengan fasta­biqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan) dan ber­lomba-lomba meraih ampunan (mengkoreksi diri). De­ngan demikian kebersamaan seperti ini kalau tidak se­makin menambah prestasi (yang baik), minimal akan bisa saling memperbaiki diri. Dalam hal ini makna “walaa tafarraqu” berarti jangan bermusuhan yang bi­sa sa­ling menghancurkan.

2. Renungan atas totalitas keislaman

Istilah “jamii’an” bisa bermakna secara keseluruh­an atau total berpedoman pada al-Qur`an, sejalan de­ngan sabda Rasulullah SAW: “Aku tinggalkan di antara kalian kitab Allah. Ia adalah Tali Allah. Ba­rang siapa yang mengikutinya, niscaya berada atas petunjuk hidayah. Barangsiapa yang meningalkannya, niscaya tersesat. (HR. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Hibban).

Lebih luas lagi Rasulullah SAW bersabda: “Aku titipkan kepadamu sekalian dua perkara. Jika kamu pegang teguh kedua perkara tersebut, maka tidak akan pernah sesat selama-lamanya; yaitu kitab Allah (Al Qur’an ) dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Bukhari Muslim).

Konsep “jamii’an” merefleksikan totalitas keislaman sebagai suatu akhlak yang sepenuhnya menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup. Mereka yang berislam secara total memahami al-Qur’an dan as-Sunnah memuat berbagai rumus untuk kebahagiaan manusia sebagaimana makna dalam ayat 123 surat Thaha:  “… barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.” Namun jika mengingkari petunjuk Allah maka dia tidak akan bahagia, sebagaimana frasa dalam ayat 124 surat Thaha: “…Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit …”.

Sebagai gambaran tentang rumus kebahagiaan manusia itu, kita bisa ambil contoh ayat 153 surat al-Baqarah dalam al-Qur’an. Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 153).

Ayat tersebut menyebutkan rumus datangnya pertolongan Allah, yaitu terpenuhinya dua syarat berupa sholat dan sabar. Seseorang yang hanya sholat saja tetapi tidak sabar, tidak akan mendatangkan pertolongan Allah. Demikian juga orang yang hanya sabar saja tetapi tidak sholat maka tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah.

Jika kita memahami Qur’an dan Sunnah merupakan himpunan rumus hidup bahagia maka dengan itupun kita bisa melakukan evaluasi program-program hidup kita. Sebagai contoh surat al-Baqarah ayat 153 tersebut, juga memberi kita cara untuk melakukan evaluasi. Dengan ayat itu kita bisa memahami bahwa ada kalanya hidup ini menghadapi cobaan-cobaan yang pelik dan ternyata pertolongan Allah tidak datang-datang juga, maka kita periksa jangan-jangan kita belum benar-benar sabar dan sholat. Mari kita periksa apakah kita benar-benar sudah sabar? Juga apakah sholat kita sudah benar-benar sholat?

Jangan-jangan sholat kita seperti seorang yang pernah ditegur oleh Rasulullah. Suatu ketika beliau melihat seorang lelaki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud dalam shalatnya, Rasulullah pun bersabada: “Engkau belum shalat, seandainya engkau mati (dalam keadaan –shalatmu– demikian), niscaya engkau mati tidak diatas fithrah yang telah Allah gariskan untuk Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.” (HR. Bukhari).

Contoh lain jika kita melihat ayat ke 7 surat Ibrahim di dalam al-Qur’an yang artinya: “Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumatkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7).

Ayat di atas menyampaikan suatu rumus untuk menambah nikmat yang diberikan Allah, yaitu dengan cara bersyukur. Jika kita diberi nikmat Allah dan kita tidak merasakan kenikmatan yang bertambah atas nikmat itu maka kita perlu evaluasi karena kemungkinan besar kita belum bisa bersyukur.

Contoh lain lagi jika kita membaca ayat ke 79 Qur’an surah al-Israa’ yang artinya: “Dan pada sebagian malam hari sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Israa’ [17]: 79).

Dari ayat ke 79 Qur’an surah al-Israa’ tersebut kita temukan suatu rumus bagaimana mengangkat pribadi menuju maqama mahmuda, tempat yang terpuji, yaitu dengan sholat tahajud.

Dalam konteks gerakan dakwah, rumus ini bisa dijadikan rujukan bagaimana menghasilkan kader-kader yang memiliki kualitas tinggi, yaitu dengan membuat program menggerakkan shalat tahajud. Praktik dalam konteks gerakan dakwah ini telah dilakukan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah berupa program Gerakan Muhasabah Muhammadiyah. Dalam renungan atas totalitas keislaman, apa yang dilakukan tersebut setidaknya bisa menjadi model bagaimana menjadikan Qur’an dan sunnah menjadi sumber utama dalam pembuatan dan pelaksanaan program-program kelembagaan dan kemasyarakatan.

Mereka yang berpegang teguh pada tali Allah hidup dengan berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah, menjalani tiap detik kehidupan pribadinya secara islami dalam aqidah, akhlak, ibadah, dan dalam muamalah duniawiyah. Mempraktikkan al-Qur’an dan as-Sunnah itu tidak hanya dalam tindakan yang bersifat pribadi saja. Dalam konsep berpegang teguh pada tali Allah termasuk pula berupa  amalan-amalan yang bersifat jama’i dalam skala yang lebih luas, tidak hanya sekedar amal pribadi.

Dengan demikian patut untuk direnungkan, sudahkan kita mem­praktikkan Qur’an dan sunnah dalam setiap sendi kehidupan kita? Sudahlan program-program hidup kita baik sebagai individu, sebagai bagian dari anggota masyarakat, sebagai aktivis persyarikatan, sebagai profesi­onal di tempat kerja, benar-benar kita buat untuk mempraktikkan Qur’an dan sunnah? Coba bertanya pada diri sendiri, ayat Qur’an dan Sunnah manakah yang kita jadikan pegangan dalam merumuskan program kegiatan pemberdayaan ekonomi? Ayat atau hadits mana yang kita jadikan dasar pembuatan program pengajian? Selanjutnya teruslah kita gali ayat-ayat Qur’an dan sunnah Rasulullah yang akan kita jadikan panduan menggulirkan program-program yang bermanfaat untuk umat. Proses seperti ini pada dasarnya adalah proses pengilmuan Islam, yaitu menjadikan Islam (Qur’an dan Sunnah) sebagai ilmu yang bisa (dan harus) dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai gambaran seperti ketika Ustadz Yusuf Mansur meyakini kebenaran ayat al-Qur’an tentang sedekah yang pada akhirnya melahirkan gerakan sedekah nasional hingga memunculkan banyak sekali rumah tahfidz di seluruh pelosok nusantara. Ini sekedar contoh bagaimana ayat-ayat al-Qur’an memberi inspirasi program (sebagai ilmu) untuk dipraktikan dalam sebuah gerakan yang memiliki cakupan luas. Dahulu kala juga ada KH Ahmad Dahlan yang menjadikan surat al-Maa’uun sebagai dasar pembuatan program-program gerakan penyantunan dan melahirkan gerakan yang memiliki program keislaman lebih luas lagi. Jika kita dalami lebih lanjut maka sesungguhnya masih banyak sekali contoh bagaimana ayat-ayat al-Qur’an bisa dipraktikkan menjadi sebuah gerakan yang bersifat luas memberi solusi bagi berbagai persoalan kemanusiaan. Marilah terus kita ekplorasi Qur’an dan sunnah menjadi program-program hidup, baik yang bersifat pribadi maupun bersifat kelembagaan, sebagai wujud totalitas keislaman kita.

Sudahkan kita mempraktikkan Qur’an dan sunnah dalam setiap sendi kehidupan kita ?
Sudahkan kita mempraktikkan Qur’an dan sunnah dalam setiap sendi kehidupan kita ? (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Bulan 1 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait