Berkarir atau Kembali Ke Rumah ?

PENULIS Tsalis Nur Sholikhah, S.E (Bendahara SMP Muh 6 Yogya)

Seorang wanita yang terlahir di dunia harus menjalani takdirnya sebagai seorang istri, juga seorang ibu bagi anak-anaknya. Sehingga, di jaman dahulu wanita tidak diperbolehkan bekerja. Wanita harus membuat dapur senantiasa mengepul, dan memastikan kebutuhan anak-anak tercukupi. Ya, dahulu wanita yang telah bersuami hanya diperbolehkan di rumah saja. Rupanya, hal ini dianggap tidak adil oleh kaum wanita. Pendidikan, jabatan, dan karir, wanita berhak atas semua itu. Akhirnya, atas perjuangan RA Kartini, saat ini kita (wanita) dapat menikmati sekolah, bekerja, maupun meniti karir untuk meraih cita-citanya masing-masing. Sehingga wanita memiliki hak yang sama seperti kaum lelaki.

Bagi sebagian orang, peran wanita masih menjadi pro kontra, haruskah tetap di rumah atau tetap bekerja membantu suami mencari nafkah. Perdebatan mengenai hal ini tiada habisnya, karena menjadi wanita karir, selain membantu keuangan keluarga, juga membuat keluarga bangga atas pencapaian cita-citanya. Namun, marilah kita sejenak renungkan dan melihat keadaan, terutama bagi para istri yang memiliki balita. Tinggalkan ego, mari resapi bersama.

Ketika saya menghadiri pengajian di rumah seorang rekan yang “Ngunduh Mantu,” isi pengajian itu mengenai peran istri sebagai ibu. Setelah kita menikah, tentu yang paling diharapkan adalah lahirnya seorang anak. Siapapun akan berdoa untuk pasangan yang sudah menikah agar segera diamanahi momongan. Namun, ketika kita dianugerahi momongan, bagi sebagian wanita, bekerja pasti bingung untuk menitipkan bayinya ketika masa cuti telah selesai. Mau tidak mau, harus menitipkan sang bayi pada nenek atau ibu kita. Ternyata menitipkan bayi pada orang tua kita termasuk mendzalimi orang tua sendiri. Dahulu orang tua sudah bersusah payah merawat kita di masa kecil, saat ini harus direpotkan pula dengan merawat anak kita. Hal ini sudah merupakan salah satu bukti bahwa amanah yang dipercayakan Allah kepada kita, belum mampu kita pertanggungjawabkan.

Ada yang berkata bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan anak adalah harta yang paling berharga, yang seharusnya “eman” untuk dititipkan meski oleh seorang pengasuh. Pendidikan anak sewaktu kecil sangatlah penting untuk menciptakan anak yang berakhlak mulia. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang tuanya sendiri.

Betapapun inginnya anda menjadi wanita karir, ketika harus bekerja meninggalkan anak yang masih kecil, saya yakin anda memiliki perasaan bergejolak di dalam hati, terutama ketika kita harus berpamitan dengannya. Lihatlah tatapan anak. Mereka hanya belum bisa berontak. Sehingga dengan kesedihannya melihat ibunya bekerja. Tak jarang pula ada anak yang menangis ketika melihat ibunya pergi bekerja. Tentunya, perasaan kita semakin iba kepada anak.

Selain perannya sebagai ibu, wanita berperan penting bagi kelangsungan rumah tangganya. Ada sebuah kisah, seorang wanita yang telah bekerja di Bank dengan gaji di atas 5 juta tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih kembali ke rumah. Ketika ditanya alasannya, ternyata ia tidak sanggup melihat suaminya yang selalu menyelesaikan rumah tangga, dari mulai mencuci baju dan piring, bahkan memasak. Juga merawat anak-anak.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam sabdanya yang mulia :

والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها

Artinya  : “Dan wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhori 1/304 Muslim 3/1459)

Namun di sisi lain, ketika kita telah mantap untuk mengabdi sepenuhnya pada keluarga, ujiannya adalah orang tua kita sendiri. Biasanya orang tua tidak menyetujui hal ini karena merasa telah menyekolahkan kita hingga tinggi, dan ingin kita menjadi wanita karir. Ya, banyak orang tua yang lebih bangga anak wanitanya yang telah bersuami menjadi wanita karir dibanding mengurus anak di rumah. Sebuah pergolakan pun muncul. Namun, betapapun orang tua tidak menyetujui, kita sebagai seorang istri harus patuh pada suami jika memang suami menghendaki kita menjadi ibu rumah tangga. Kepatuhan kita terhadap suami akan menjadi surganya orang tua kita kelak, karena jutaan Rahmat Allah ada di dalam istri yang sholehah, yang selalu berbakti pada suami, bertanggungjawab pada anak dan rumah tangga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Tidak heran jika Ainun, istri BJ Habibi yang notabene seorang dokter lebih memilih merawat dan mengurus anak serta rumah tangganya dengan tangannya sendiri, dan masih banyak wanita-wanita berpendidikan tinggi di luar sana yang memilih kembali ke rumah untuk mengabdi pada suami, demi menjalankan kewajibannya sebagai istri yang sholehah.

Banyak wanita yang takut akan rezeki, takut akan harga dirinya yang hilang ketika dia “hanya” menjadi ibu rumah tangga, takut akan omongan tetangga maupun teman jika ia menjadi pengangguran demi anak dan keluarga. Lalu dengan menjadi wanita karir, apakah pendidikan anak tidak akan terlalaikan, kebutuhan rumah tangga tercukupi dan terpenuhi??  Mengutip dari beberapa artikel, berikut beberapa hal yang disampaikan para tokoh mengenai wanita yang seharusnya kembali ke rumah untuk melaksanakan kewajibannya.

Marry De Clark, istri mantan Presiden Afrika Selatan mengatakan, “Sungguh, tempat yang paling cocok bagi wanita adalah rumah tempat tinggalnya.”

Seorang pakar berkebangsaan Inggris yang bernama Samuel Smiles mengatakan. “Sungguh, undang-undang yang memperbolehkan para wanita bekerja di pabrik-pabrik dan kantor-kantor, meski dapat meningkatkan hasil produksi, namun akan berakibat fatal bagi kelangsungan rumah tangga. Sebab peraturan itu telah mengintervensi urusan rumah, merobohkan pilar-pilar keluarga, mencabik-cabik hubungan sosial, merampas istri dari suaminya, juga merebut anak-anak dari kerabat mereka, sehingga hal itu hanya akan merusak moralitas kaum wanita.”

Seorang pakar kedokteran industri menegaskan, “Pekerjaan dapat melemahkan sifat kewanitaan, bahkan pekerjaan yang ringan sekalipun. Profesi yang hanya menuntut kerja otak dan tanggungjawab juga mempunyai efek yang sama. Keletihan psikis yang dialami wanita karir di tengah-tengah pekerjaannya jelas berbeda dengan suasana kehidupan keluargnya. Pekerjaan juga dapat berdampak pada hasrat seksual wanita.”

Hal di atas telah menegaskan kewajiban seorang istri yang sesungguhnya. Kewajiban itu sendiri adalah perintah agama.

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده، وهي مسئولة عنهم، والعبد راع على مال سيده، وهو مسئول عنه، فكلكم راع مسئول عن رعيته

Artinya  : “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829). Kutipan yang sama ada di https://muslim.or.id/9164-pahala-melimpah-bagi-muslimah-yang-tinggal-di-rumah.html.

Tanggungjawab terbesar seorang wanita adalah rumah tangganya. Ketika ia berhasil melayani suami dengan baik, merawat anak-anaknya dengan sebaik-baiknya, maka hanya ada kerahmatan Allah yang senantiasa menyelimuti keluarganya. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti membatasi potensi dalam diri kita. Dalam pandangan islam, laki-laki maupun perempuan memiliki potensi masing-masing. Laki-laki diberi kekuatan pikiran dan wanita diberi kepekaan rasa. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Ada banyak hak suami dan anak yang harus kita penuhi, tentunya itu tidak bisa jika kita sibuk terhadap pekerjaan di luar. Prestasi tidak harus didapat dalam pekerjaan, tapi prestasi yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menciptakan generasi penerus yang berakhlak mulia, berguna bagi agama dan bangsa, serta mampu membahagiakan suami sepanjang waktu.

Lalu, kapan wanita harus bekerja?

Ketika suaminya meninggal, ketika ia menjadi single parent, dan ketika ada hal yang mendesak atau terpaksa, semisal suaminya sakit keras. Itupun harus dengan beberapa pertimbangan dan batas-batas tertentu. Semua orang punya pilihan masing-masing. Ketika kita telah terjun dalam karir, saat mencapai kesuksesan, mungkin kita tidak rela unutk kehilangan kesuksesan itu, sehingga manusia cenderung kurang merasa puas. Namun perlu diingat bahwa semakin kita berkarir, kesibukan semakin datang. Pandai-pandailah mengatur waktu terutama untuk keluarga. Risiko tentu harus kita terima sebagai wanita karir. Memang semakin tinggi jabatan kita semakin tinggi masyarakat menyanjung kita terutama keluarga. Rasa bangga tidak bisa dipungkiri menyelimuti hati kita yang telah berhasil mencapai titik impian. Mungkin dari sisi materi akan lancar dan berlimpah. Namun, hati-hati penyakit hati selalu mengintai, godaan setan tidak pernah berhenti, karena manusia mudah lalai ketika dirinya dianugerahi kebahagiaan terus menerus. Sehingga setan akan mudah menggodanya berbuat ingkar, lupa terhadap kewajiban sebagai istri. Na’udzubillah.

Memilih kembali ke rumah menjadi ibu rumah tangga yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat adalah pekerjaan paling mulia yang tidak semua wanita mampu melakukannya. Dikutip dari artikel “Taman Hati dan Surga Ilmu”, dalam Islam, kemuliaan tidak bisa dilihat dari sisi status atau profesi seseorang, akan tetapi barometer kemuliaan terletak pada ketakwaan dan sejuah mana ia bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Contoh konkretnya, Dewi Masyitah hanyalah tukang sisir putri raja, namun beliau berhasil memiliki derajat yang mulia di sisi Allah SWT, namanya harum sepanjang masa, mengalahkan Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Bilal bin Rabah, juga bukanlah seorang manajer atau direktur dalam sebuah perusahaan melainkan ia hanyalah seorang hamba sahaya yang tertindas, tapi ternyata memiliki kedudukan tinggi di depan Tuhan dan Rasul-Nya.

Hanya saja kita sebagai manusia, terkadang tak mampu bertahan dalam gunjingan orang, “sarjana kok nganggur di rumah”. Padahal yang mereka remehkan adalah pekerjaan yang paling mulia di sisi Allah. Jangan pernah takut akan rezeki Allah karena Allah Maha Kaya, jika kita mau berbuat yang lebih baik seperti yang Allah perintahkan, Insya Allah rezeki Allah tiada putusnya. Allah senantiasa mencukupkan kebutuhan kita jika kita mau bersyukur, kita merasa kurang karena yang kita kejar adalah tuntutan gaya hidup, sehingga jauh dari rasa syukur.

Bisa menikah dan dikaruniai momongan adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Banyak pasangan yang bahkan sulit mendapat momongan. Ketika telah dianugerahi maka jangan sia-sia kan amanah yang telah diberikan. Merawat mereka, memberikan pendidikan yang layak dan memenuhi hak-haknya. Momongan, jangan dijadikan beban sebagai pengganjal karir masa depan.

Menjaga keluarga tetap sakinah, mawadah dan warrahmah bukan hal yang mudah. Nyatanya banyak orang yang bercerai berai. Ketika dianugerahi suami yang baik, maka berbaktilah dan mengabdi sepenuh hati. Suami mencari nafkah, dan istri merawat rumah dengan sebaik-baiknya, selain itu istri senantiasa bersyukur atas pemberian suaminya.

Jangan malu memilih menjadi ibu rumah tangga, jangan bersedih jika suamimu memintamu kembali ke rumah, karena di balik keikhlasan baktimu pada keluarga, tersimpan jutaan mutiara yang berkahnya tiada tara. Hanya dapat engkau rasakan ketika engkau benar-benar ikhlas menjalani kewajibanmu sebagai seorang istri dan ibu.

Terlepas dari itu semua, perbedaan pendapat selalu terjadi, apapun itu, bekerja atau di rumah adalah pilihan masing-masing dan tentunya dengan alasan tersendiri. Tidak bisa menghakimi atau meremehkan, tidak perlu diperdebatkan dengan ego, karena setiap orang memiliki keadaan yang berbeda-beda. Tinggal bertanyalah pada hati masing-masing mana yang lebih baik. Saya sendiri, memutuskan untuk kembali ke rumah, demi mereka (suami dan anak) yang kucinta.

Persembahan untuk para Ibu Rumah Tangga

karir vs keluarga
Bagi sebagian orang, peran wanita masih menjadi pro kontra, haruskah tetap di rumah atau tetap bekerja membantu suami mencari nafkah (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Berkarir atau Kembali Ke Rumah ?
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...