Benarkah Pikiran Mempengaruhi Kesehatan ?

PENULIS Sulistyawati, S.Si., MPH. (Dosen FKM UAD)

Dalam energy medicine Dr. Herbert Spencer dari Universitas Harvard mengatakan bahwa jiwa dan tubuh saling melengkapi. Dia mengatakan bahwa lebih dari 90 % penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa. Inilah yang disebut dengan Psycho-Somatic Disease. Istilah ini berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan somo yang berarti tubuh. Maksudnya jiwa memengaruhi tubuh. Berikut ini beberapa pikiran yang mempengaruhi kesehatan tubuh :

Apa saja yang kita pikirkan dapat menjadi kenyataan

Menurut penelitian, pada hasil scan otak menunjukkan ketika kita melihat gambar sebuah pohon atau ketika kita hanya membayangkan sebuah pohon, area otak yang sama menggambarkan pola yang sama pula. Jadi dapat saja terjadi kita sakit karena berpikir ada penyakit dalam tubuh kita padahal sebenarnya penyakit itu tidak ada. Begitu juga sebaliknya, ketika ada suatu penyakit dalam tubuh kita namun kita tidak berpikir kita sakit, bisa jadi kita tidak akan benar-benar jatuh sakit atau sakit yang kita derita tidak akan segera menjadi parah. Hasil dari proses fisiologi yang sama dapat berubah oleh pikiran yang kita miliki sewaktu proses masih berlangsung.

Misalnya, seorang ibu mempunyai pikiran tentang kesehatan anaknya. “Anakku setiap memasuki tahap perkembangannya pasti disertai sakit diare maupun panas”. Kebetulan saja anak kesayangannya tersebut sedang mengalami daya tahan tubuh menurun, padahal waktu itu si kecil perkembangannya memasuki tahap merangkak. Karena sugesti tersebut sudah tertanam dalam pikiran sang ibu maka si kecil setiap memasuki tahap perkembangan selanjutnya sering sakit-sakitan.

Kisah nyata yang pernah dialami oleh seorang alumni siswa SMK swasta, ini pun mungkin  pernah dialami  oleh orang-orang di sekitar kita. Sebut saja namanya Tofan. Suatu hari dia datang ke sekolahan adiknya, dengan segera menemui guru wali kelas. “Mohon maaf ibu saya alumni sekolah sini mau minta ijin. Adik saya tidak bisa mengikuti ujian karena kecelakaan dan tidak mampu berjalan, sebenarnya sudah menggunakan kruk saya yang dulu tetapi masih sakit”. Sang guru pun mengambil kesimpulan kemudian melontarkan pertanyaan ke Tofan bahwa dia dulu berarti pernah mengalami kecelakaan dan menggunakan kruk juga. Tofan membenarkannnya seraya berkata, ”Saya menyimpannya siapa tahu besok ada yang membutuhkan bu”. Gurunya memberi nasehat, “besok lagi jangan menyimpan kruk setelah sehat dibuang jauh saja alat itu, karena takutnya keluarga kita juga akan mengalami kecelakaan parah yang kemudian membutuhkan kruk tersebut. Seolah menyiapkan kruk berarti akan terjadi kecelakaan lagi dalam keluarga kita”.

Sugesti positif membuat sehat

Masyarakat sering membandingkan dokter ataupun tenaga medis terhadap tingkat kesembuhan pasien. Ternyata kebanyakan pasien merasa senang dan cepat sembuh ketika berobat pada dokter atau tenaga kesehatan yang perhatian dan murah senyum. Mampu bersikap tenang dan memberikan nasihat berupa sugesti kepada pasien untuk menenangkan pikiran dan selalu berpikiran positif untuk menghindari stres. Ketika mereka membandingkan obat dokter A dan dokter B ternyata sama saja, namun bagi mereka si dokter A misalnya lebih ampuh obatnya dibandingkan dengan dokter B. Padahal kenyataannya adalah si pasien sembuh karena mereka menerima sugesti positif dari dokter A, dibanding dokter B yang ketika mengobati pasien hanya sekedar bertanya keluhan pasien kemudian memberikan resep yang harus di habiskan selama 3 kali sebanyak 1 biji  dalam sehari.

Kondisi badan ngedrop menimbulkan berbagai penyakit

Ketika ada seseorang yang mengalami sakit dan membutuhkan perawatan dan pengobatan, perhatian dari keluarganya sangat diharapkan. Karena ketika dia merasa berarti bagi keluarga dan merasa dibutuhkan sehingga pikirannya selalu mengarah untuk cepat sembuh serta kesehatannya pulih seperti sediakala. Namun terkadang yang terjadi adalah malah sebaliknya, yakni merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan, tidak diperhatikan, atau tidak berarti lagi bagi keluarganya sehingga penyakit yang semestinya tidak berat, namun karena pikiran pesimis yang ada dalam diri lebih besar di bandingkan optimis untuk sembuh. Maka dapat menyebabkan daya tahan tubuhnya makin melemah, makin menurun sehingga yang tadinya hanya satu penyakit malah menjadi banyak penyakit karena semua penyakit berpotensi muncul ketika daya tahan tubuh lemah.

Senyawa kimiawi yang mempengaruhi kesehatan

Senyawa apakah sebenarnya yang mempengaruhi kesehatan badan kita? Ternyata dalam tubuh kita terdapat suatu senyawa kimiawi yang disebut neurotransmitter, yaitu suatu senyawa yang bertugas mengirimkan sinyal melalui sistem syaraf. Senyawa kimia ini berada di otak, tepatnya di akhiran sel syaraf. Tapi juga dapat ditemukan di organ lainnya, seperti di jantung, usus, sistem imun. Neurotransmitter dapat berdifusi ke dalam jaringan dan darah.

Dapat kita analogikan sistem syaraf itu sebagai suatu jaringan kabel telpon, mampu menyalurkan berbagai informasi dari satu tempat ke tempat lain dalam tubuh. Inilah alasan kenapa respon yang terjadi di tubuh kita dapat terlihat di berbagai tempat yang berbeda di tubuh. Kenapa depresi, yang berhubungan dengan rendahnya kadar serotonin (sebuah neurotransmitter) di otak, juga menyebabkan penurunan fungsi imun dan penurunan fungsi usus besar. Dan kenapa antidepresan mempunyai efek samping pada sistem gastrointestinal. Kenapa terkadang perut terasa tidak enak ketika kita sedang cemas? Karena neurotransmitter yang ada di usus dapat merupakan refleksi dari apa yang terjadi di kepala.

Sugesti yang datang dari pikiran kita sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan badan. Pikiran yang ada dalam benak kita akan menyebar dan meluas. Otak menguatkan pendapat yang kemudian berpengaruh pula terhadap ekspresi wajah dan anggota tubuh luar maupun dalam. Berarti jika kita menginginkan badan senantiasa terjaga esehatannya maka hidup perlu diisi dengan pikiran yang positif.

Kesehatan otak
Sugesti yang datang dari pikiran kita sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan badan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Benarkah Pikiran Mempengaruhi Kesehatan ?
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE