Belajar Mencintai, Memberi, Menerima dan Kehilangan Karena Allah SWT

PENULIS Winda Noor Santi (Guru IPA SMP Muh 10 Yogya)

Saudara saudariku..muslim-muslimah… ketahuilah bahwa kita dan seluruh manusia di muka bumi ini diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah, demikian pula tujuan jin diciptakan tidak lain adalah untuk meyembah Allah. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Adz Dzariyat 56 yang artinya “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKu (yaitu mengesakanKu)”.

Ibadah dilakukan oleh seorang muslim-muslimah karena kebutuhannya terhadap Allah sebagai tempat sandaran hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ketahuilah bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seseorang, di samping kita harus mencontoh gerak dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadahnya.

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidknnya.” (Al Bayyinah 5)

Ikhlas adalah meniatkan ibadah seseorang hanya untuk mengharap keridhoan dan wajah Allah semata dan tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam ibadah tersebut. Ibadah yang dilakukan untuk selain Allah atau menjadikan sekutu bagi Allah sebagai tujuan ibadah ketika sedang beribadah kepada Allah adalah syirik dan ibadah yang dilakukan dengan niat yang demikian tidak akan diterima oleh Allah. Misalnya menyembah berhala di samping menyembah Allah atau dengan ibadah kita mengharapkan pujian, harta, kedudukan dunia, dan lain-lain. Syirik merusak kejernihan ibadah dan menghilangkan keikhlasan dan pahalanya.

Abu Umamah meriwayatkan, seseorang telah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala?”

Rasululllahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ” Ia tidak mendapatkan apa-apa.”

Orang tadi mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap menjawab, ” Ia tidak akan mendapatkan apa-apa. ” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karenaNya dan mengharap wajahNya.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Ketahuilah saudara-saudariku bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau pun banyak – sehingga tujuan ibadah adalah murni karena Allah.

Ikhlas hanya akan datang dari seseorang yang mencintai Allah dan menjadikan Allah sebagi satu-satunya sandaran dan harapan. Namun kebanyakan orang pada zaman sekarang mudah tergoda dengan gemerlap dunia dan mengikuti keinginan nafsunya. Padahal nafsu akan mendorong seseorang untuk lalai berbuat ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan, yang akhirnya akan menjerumuskan dia pada palung kehancuran di dunia dan jurang neraka kelak di akhirat.

Mencintai seseorang yang bukan karena Allah, karena rupa, harta, atau yang lainnya itu akan sia-sia. Kenapa, Rupa tampan lama-kelamaan juga akan menua, Harta… tidaklah akan bertahan lama karena bisa habis. Tapi mencintai seseorang karena ALLah itu akan abadi dan tentunya akan menjadikan kenyamanan hati jiwa dan raga  dunia akhirat,yang Insyallah juga menjadi bekal kelak di Jannah.aamiin

Memberi… memberi apabila tidak diniatkan kepada Allah bisa jatuh menjadi riya’. Karena memberi hanya ingin dilihat maupun dipuji orang lain. Tetapi jika kita memberi dengan diniatkan karena Allah “ikhlas” pasti Allah akan bernilai ibadah dan tentunya Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda.

Menerima… menerima karena Allah. Wah… itu tidaklah mudah. Terkadang kita menggerutu dengan kata “KOK”, kok sedikit, kok begini, dan lain-lain. Berarti kata-kata seperti itu menandakan kita belum ikhlas menerima sesuatu. Haduuuuuuhhhh… susah juga ya, karena terkadang kita tidak menyadarinya. Astagfirullah.

Ada satu kata yang selalu membantu menyemangati saya ketika hasil dari sesuatu yang kita terima tidak seperti yang kita inginkan.“ Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tetapi Allah memberi Apa yang kita butuhkan “.So sweet banget ya Allah itu.

Yang terakhir Belajar kehilangan karena Allah… bicara tentang kehilangan mesti menjadi galau, hati sedih, nangis, dan lain-lain. Itu kalau rasa kehilangan kita tidak didasarkan karena Allah. Lain halnya kalau kita berprinsip bahwa Allah yang mengaturnya dan skenarionya. Pasti hati menjadi nyaman dan tenteram, hilang satu tumbuh seribu, Allah menggatinya dengan yang lainnya, bukan sekarang namun besok, atau dengan kata-kata lainnya. Pokoknya ingat ya… semua karena ALLah SWT.

Mencintai karena Allah, Memberi karena Allah ,Menerima karena Allah, dan kehilangan karena Allah… Insyallah bahagia Dunia akhirat dan tentunya membuat hati nyaman tenteram dan no galau. Oleh karena itu, hampir tidak ada ibadah yang dilakukan seseorang bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan dunia. Namun ini bukanlah alasan untuk tidak memperhatikan keikhlasan. Ingatlah bahwa Allah sentiasa menyayangi hambaNya, selalu memberikan rahmat kepada hambaNya dan senang jika hambaNya kembali padaNya. Allah senatiasa menolong seorang muslimah yang berusaha mencari keridhoan dan wajahNya.

Tetaplah berusaha dan berlatih untuk menjadi orang yang ikhlas. Salah satu cara untuk ikhlas adalah menghilangkan ketamakan terhadap dunia dan berusaha agar hati selalu terfokus kepada janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan berupa kenikmatan abadi di surga dan menjauhkan kita dari neraka. Selain itu, berusaha menyembunyikan amalan kebaikan dan ibadah agar tidak menarik perhatianmu untuk dilihat dan didengar orang, sehingga mereka memujimu. Belajarlah dari generasi terdahulu yang berusaha ikhlas agar mendapatkan ridho Allah.

Dahulu ada penduduk Madinah yang mendapatkan sedekah misterius, hingga akhirnya sedekah itu berhenti bertepatan dengan sepeninggalnya Ali bin Al Husain. Orang-orang yang yang memandikan beliau tiba-tiba melihat bekas-bekas menghitam di punggung beliau, dan bertanya, “Apa ini?” Sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di Madinah.” Akhirnya mereka pun tahu siapa yang selama ini suka memberi sedekah kepada mereka. Ketika hidupnya, Ali bin Husain pernah berkata,“Sesungguhnya sedekah yang dilakukan diam-diam dapat memadamkan kemurkaan Allah.”

Janganlah engkau menjadi orang-orang yang meremehkan keikhlasan dan lalai darinya. Kelak pada hari kiamat orang-orang yang lalai akan mendapati kebaikan-kebaikan mereka telah berubah menjadi keburukan. Ibadah mereka tidak diterima Allah, sedang mereka juga mendapat balasan berupa api neraka dosa syirik mereka kepada Allah.

Seperti firman Allah pada QS. Az Zumar 47-48: “Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi azab mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.”

Serta dalam QS. Al Kahfi 103-104“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.”

Bersabarlah dalam belajar ikhlas. Palingkan wajahmu dari pujian manusia dan gemerlap dunia. Sesungguhnya dunia ini fana dan akan hancur, maka sia-sia ibadah yang engkau lakukan untuk dunia. Sedangkan akhirat adalah kekal, kenikmatannya juga siksanya. Bersabarlah di dunia yang hanya sebentar, karena engkau tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walau hanya sebentar. Semoga bermanfat.

ana uhibbuki fillah
Belajar Mencintai, Memberi, Menerima dan Kehilangan Karena Allah SWT (sumber gambar : klik disini)
Gambar Belajar Mencintai, Memberi, Menerima dan Kehilangan Karena Allah SWT
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...