Banyak Amal Usaha Muhammadiyah Dimanfaatkan Kader Lain

Oleh : Ahmad Na’im Azhari (Guru SMP Muh 8 Yogya)

Perkembangan Muhammadiyah di daerah rintisan biasanya memiliki semangat yang menyala dan banyak aktivitasnya, sekalipun rintangan dan tantangannya sangat komplek. Sementara di daerah basis sendiri justru aktivitasnya mengendor.

Prediksi itu memang ada benarnya, tetapi tidak keseluruhan seperti itu, karena kami belum pernah melakukan penelitian. Tetapi memang saya melihat bahwa satu daerah yang tadinya maju tiba-tiba semangatnya mengendor. Hal ini disebabkan oleh dua unsur ada unsur dalam dan unsur luar. Unsur dalam adalah kegiatan itu terlalu rutinitas dan tidak ada pengembangan dan pembaharuan, sehingga dirasakan manfaatnya relatif berkurang. Padahal ada beberapa orang yang memilki potensi untuk maju, tetapi ketika melihat kegiatannya rutin itu-itu saja menjadi jenuh, akhirnya mereka mencari alternatif kegiatan di luar.

Sebenamya mereka ingin menggerakkan dan memajukan Muhammadiyah, namun karena tidak dipakai dan merasa dipinggirkan, maka peluang itu mereka manfaatkan untuk aktif di luar. Nah unsur luar itu biasanya lebih bisa leluasa untuk mengekpresikan kemampuannya, misalnya di PKS atau Hizbuttahrir dan sebagainya.

Jadi sebenarnya di daerah basis itu aktivitasnya cenderung menjenuhkan. Ketika saya Tanya Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Paciran (daerah basis), apakah memang di daerah basis itu ada perasaan jenuh dan menjenuhkan. Karena memang di sana kegiatannya bersifat rutin dan monoton. Misalnya hanya rapat rutin, pengajian, kultum, dan sejenisnya. Sementara di Paciran ada alternatif kegiatan di luar yang sangat maju, seperti yang dilakukan oleh PKS, mereka begitu gesit dan bisa mempengaruhi warga untuk berkiprah di dalamnya dan di situ ada inovasi terus menerus, sehingga tidak mustahil warga Muhammadiyah di sana banyak yang masuk ke dalam PKS. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, tetapi saya kira Muhammadiyah perlu  mengkaji kembali dan segera mengadakan pembaharuan, terutama di daerah-daerah basis, agar dimasa mendatang kejenuhan itu bisa cair sehingga warga Muhammadiyah dan Aisyiyah terutama angkatan mudanya bisa kembali ke induknya.

Karena kurangnya sosialisasi tentang MKCH, kepribadian Muhammadiyah, khittah perjuangan Muhammadiyah. Untuk itu diperlukan metode gaya baru untuk menyampaikan atau mensosiali-sasikan hal itu. Sebab selama ini dengan metode ceramah kurang bisa mengena, misalnya MKCH kalau hanya diceramahkan sulit dicerna dan membosankan. Mungkin perlu memakai bentuk baru melalui pelatihan-pelatihan, diskusi atau lewat Darul Arqom bisa lebih mengena. Bahkan. bentuk-bentuk perkaderan di Muhammadiyah dan Aisyiyah perlu ada pembaharuan, dicarikan bentuk lain yang sesuai dengan perkembangan zaman (globalisasi) saat ini.

Memang ada benarnya. Saya melihat sendiri banyak masjid yang didirikan oleh warga Muhammadiyah dipakai sebagai ajang kegiatan dakwah mereka, maksud saya untuk kegiatan dakwah anggota PKS. Bukan hanya masjid ada sekolahan bahkan kampus PTM juga dipakai sebagai basis kegiatan dakwah mereka. Kita memang boleh waspada sebab amal usaha milik Muhammadiyah merupakan lahan subur untuk aktivitas kelompok lain, karena memang kader-kader muda kita yang peduli terhadap perkembangan Muhammadiyah masih sangat terbatas. Sehingga kelompok lain yang justru memanfaatkannya, kita tidak bisa menyalahkan mereka. Hanya saja sekarang bagaimana kita bisa membentengi amal usaha Muhammadiyah yang dengan susah payah kita dirikan itu dengan menempatkan kader-kader muda yang militan, sehingga kiprah kita sebagai organisasi dan gerakan dakwah tidak di aneksasi oleh kelompok-kelompok pendatang.

Bahkan yang sangat memprihatinkan adalah Mu’alimat, Mu’alimin, UAD juga dipakai sebagai ajang kegiatan kelompok lain yang kepribadiannya lain dengan kita. Hal ini terbukti ketika saya disambati oleh salah satu orang tua mahasiswa UAD yang kebetulan sebagai Pimpinan Aisyiyah di Kupang, NTT. Kenapa UAD ada kelompok mahasiswa yang eksklusif dimana pakaian mereka berbeda dengan yang lain yang wanita pakai cadar hitam-hitam, bukankah itu identitas Muhammadiyah ? Ada juga seorang mahasiswa yang dulunya aktif di IMM, lalu pindah masuk ke kelompok mereka, karena di IMM nyaris kegiatannya sangat monoton dan tidak bervariatif.

Pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah segera akan mengadakan konsolidasi, diantaranya adalah konsolidasi ideologi, nanti akan mencari solusi pengembangan penanaman ideologi, kemudian juga konsolidasi perkaderan dan konsolidasi dalam organisasi. Program ini akan dipercepat dan segera di realisasi. Disana sini segera akan dibenahi. Agar bisa bersatu kembali dalam Persyarikatan. Di samping itu memang ada penyebab lain yakni ada keretakan di tingkat pimpinan, keretakan itu akibat dari imbas politik masa lalu. Sejak pemilu legislatif, Anggota DPD dan pemilihan Presiden secara langsung kita sempat terombang-ambing. Mengingat bahwa warga Muhammadiyah ada yang terlibat aktif di PAN, PKS, PBB, PPP, Golkar dan sebagainya. Nah sekarang kita akan kumpulkan lagi supaya bisa bersatu kembali untuk Muhammadiyah.

Mungkin karena Muhammadiyah sangat terbuka terhadap adanya kritik-kritik. Sehingga dampaknya sangat luas. Karena Muhammadiyah selalu dikritik dari segi kepemimpinannya, ideologinya dan sebagainya, bagi orang yang belum kuat tentang kemuhammadiyahannya bisa menjadi sangat kecewa. Sehingga tidak ada kebanggaan lagi terhadap Muhammadiyah. Akhimya mereka menyempal masuk ke kelompok lain. Bahkan ada yang mendirikan amal usaha sendiri, misalnya TPA/TK, SD, SMP, SMA, Rumah Sakit bahkan mendirikan Pondok Pesantren dengan nama lain selain Muhammadiyah, hal ini sangat disayangkan. Sebenarnya orang yang kecewa terhadap Muhammadiyah itu banyak yang potensial, karena di Muhammadiyah mereka tidak dipakai, kemudian kecewa dan menyempal kemudian mendirikan amal usaha sendiri.

Ada benarnya. Untuk mengatasi hal itu kita harus mengenalkan Muhammadiyah sejak usia dini. Pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah harus menanamkan kepribadian dan kecintaan terhadap Persyarikatan ini sejak dini. Bahkan kita harus memperkenalkan Muhammadiyah ini dalam pendidikan luar sekolah sejak SD hingga SMA. Misalnya pendidikan ketrampilan, agama, seni, budaya, dan segala macamnya, sekarang ini hampir tidak ada lagi. Angkatan Muda Muhammadiyah seperti, Pemuda, NA, IMM dan IPM lebih cenderung menggarap perkaderan formal sementara yang non formal hampir tidak di sentuh. Padahal itu sangat penting dan luas sekali garapannya. Bila AMM saja tidak menggarap pendidikan non formal apalagi Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak atau belum sempat mengurus masalah itu. Jadi kembali lagi agar kaderisasi itu tidak tersumbat, maka seluruh warga Muhamadiyah harus mensosialisasikan dan memperkenalkan Persyarikatan Muhammadiyah ini kepada anak sejak usia dini. dimanapun kita berada.

Segera kita bangkitkan kembali seluruh ortom Muhammadiyah. Termasuk Pandu HW segera diremajakan, kegiatan Pandu HW tidak hanya lewat sekolah, tetapi melalui jalur luar sekolah. Aktivitas ortom juga menggarap bidang-bidang yang lebih luas lagi terutama yang bisa bermanfaat langsung pada masyarakat bawah. Sekarang ini kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat bawah dilakukan kelompok lain selain ortom Muhammadiyah. Bila angkatan mudanya bisa bergerak ke seluruh aspek kehidupan masyarakat, dengan cara simpati, menyentuh serta tepat sasaran, otomatis Muhammadiyah ini akan semakin berkibar dan semarak kiprahnya dimata masyarakat.

Harapan saya yang pertama, kita harus menggerakkan Ranting. Baik Ranting Muhamadiyah maupun Aisyiyah yang sudah ada maupun Ranting-Ranting baru yang bermunculan pasca Muktamar. Dengan menggerakkan Ranting Muhammadiyah akan menjadi besar bahkan bisa menjadi ormas Islam terbesar bukan hanya di Indonesia tetapi untuk tingkat dunia.

Yang kedua Tajdid gerakan ini harus di sosialisasikan sampai ke tingkat grassroot, karena pemahaman tajdid itu baru sebatas sampai tingkat pimpinan.

Yang ketiga Majelis Tarjih di Muhammadiyah itu seyogyanya bisa menjawab seluruh persoalan agama yang mudah difahami oleh masyarakat secara luas.

Yang keempat, supaya Angkatan Muda Muhammadiyah back to basic. Boleh beraktivitas secara luas, boleh beda pendapat, mengembangkan ekspresinya dengan nilai-nilai akhlakul karimah dan tidak condong ke liberalis.

Muhammadiyah saat ini sudah sangat berkembang ditandainya degan memiliki ribuan amal usaha
Muhammadiyah saat ini sudah sangat berkembang ditandainya degan memiliki ribuan amal usaha (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait