Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Gambar Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)
Margianto, S.Ag, MA
Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta, Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. untuk umatnya termasuk nabi kita Muhammad saw. Keharusan mengikuti syariat Islam, terutama jejak langkah yang pernah ditempuh oleh Rasulullah saw, telah ditegaskan oleh  Allah Swt:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Artinya  : “Katakanlah, ‘Inilah jalan (dakwah)-ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada (agama) Allah dengan hujjah (bukti) yang nyata..” (QS. Yusuf: 108).

Dakwah di era sekarang dikemas dengan beragam jenis dan bentuknya seperti pengajian, Majelis Taklim dan lain-lain serta memiliki nama yang berbeda-beda seperti pidato, ceramah, khitobah dan sebaginya. Untuk mencapai tujuan dakwah yakni amar ma’ruf nahi munkar maka dakwah harus dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan serta diperankan atau  dilakukan oleh  orang yang memiliki kompetensi/kemampuan dan keahlian dalam bidangnya. Dengan kata lain  dakwah tidak bisa dilakukan dengan srampangan/wathon/ngawur (bahasa Jawa) namun harus tetap dilakukan secara baik dan profesional serta menggunakan ushlub atau  metode/cara yang jitu dan yang tidak kalah penting adalah menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh jamaah. Model dakwah dengan menggunakan bahasa yang sesuai inilah yang kemudian dinamakan dengan istilah Komunikasi Dakwah .

Seorang Da’i, Ustadz, Mubaligh harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik  dalam berdakwah agar dakwahnya disenagi dan diminati oleh jamaahnya serta  jamaahnya paham apa yang disampaikan. Karena memang dalam kegiatan pengajian misalnya tidak sedikit jamaah yang justru malah tidak paham dan bingung terhadap materi yang disampaikan oleh para mubaligh. Kebingungan dan ketidak pahaman  terhadap materi dakwah ini  lambat laun akan berdampak pada menurunya gairah dan antusias jamaah untuk datang dalam  pengajian. Maka tidak heran jika pengajian yang diadakan jumlah jamaahnya yang hadir sangat sedikit dan bahkan lebih memprihatinkan lagi ada pengajian yang terpaksa tidak dilanjutkan/bubar yang disebabkan karena tidak ada lagi jamaah yang mau hadir. Tentu kita berharap kegiatan dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah selalu dibanjiri jamaah. Dakwah dengan menggnakan  bahasa yang baik atau komunikasi yang baik adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kemampuan verbal seorang Mubaligh harus senantiasa dimiliki agar Mubaligh tersebut tidak kehilangan jamaah. Metode dakwah yang baik telah Allah swt. sampaikan dalam al-qur’an :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya  : “Serulah (manusia) kepada jlan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl : 125).

Ayat ini dengan jelas telah mengungkapkan bagaimana dakwah yang baik itu harus dilakukan dengan hikmah. Para ulama memiliki pemahaman yang berbeda tentang kata hikmah ini.  Imam Ibnu Jarir dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, mengatakan  bahwa maksud dari kata hikmah adalah wahyu yang telah diturunkan oleh Allah swt berupa Al-Qur’an dan as-Sunnah. Syekh Muhammad Abduh  juga berpendapat bahwa hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah dalam tiap – tiap hal. Hikmah juga diartikan dengan ucapan yang sedikit lafadz akan tetapi memiliki banyak makna atau dapat diartikan meletakkan sesuatu sesuai tempat yang semestinya. Orang yang memiliki hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Dalam Kitab al-Kasysyaf, seorang ulama tafsir yang sekaligus penulis dari kitab tersebut yakni Abd al-Qasim Mahmud ibn Muhammad ibn ‘Umar al-Zamakhsyari yang dikenal dengan nama Al-Zamaksyari mengartikan kata hikmah dalam ayat tersebut adalah  sesuatu yang pasti benar. Al-Hikmah adalah dalil yang menghilangkan keraguan ataupun kesamaran. Selanjutnya Al-Zamaksyari  menyebutkan bahwa hikmah juga diartikan sebagai al-Qur’an yakni ajaklah manusia mengikuti kitab yang memuat al-hikmah.

Dari pengertian dan penjelasan di atas dapat difahami bahwa hikmah adalah kemampuan Da’i, Ustadz, Mubaligh dalam memilih dan menyelaraskan tmetode dakwah dengan kondisi obyektif dan riel jamaah sebagai mad’u da’wah atau obyek dakwah . selain itu hikmah juga merupakan kemampuan Da’i, Ustadz, Mubaligh  dalam menjelaskan doktrin- doktrin Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi yang logis dan retorika bahasa yang komunikatif sehingga dakwah bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Guyonan atau candaan dalam berdakwah memang terkadang perlu dilakukan dan sangat  dibutuhkan untuk memecahkan kebekuan suasana yang dengannya pembahasan sesuatu yang sebetulnya ilmiah akan menjadi renyah sehingga bisa diterima jamaah. Kisah inspiratif dari KH.AR Fachruddin yang biasa santai dalam setiap dakwahnya adalah seperti diceritakan saat beliau Pak AR (nama panggilan akrabnya) yang pernah diundang memberikan ceramah Ramadhan  di sebuah masjid di Surabaya dan seperti biasanya  beliau pun dipersilahkan untuk menjadi imam Shalat Tarawih. Sebenarnya Pak AR sudah berusaha menolak namun karena terus didesak, akhirnya beliau pun bertanya pada hadirin, “Bapak ibu sekalian, biasanya Shalat Tarawih di sini dilaksanakan 8 atau 20 raka’at , njih? Hadirin serempak menjawab 20 raka’at. Namun Pak AR tak berkomentar panjang lebar dan hanya berujar,”Baik, semoga saya juga mampu melaksanakan sebagaimana kebiasaan.” Lalu Pak AR pun mulai memimpin shalat. Malam-malam sebelumnya jamaah di masjid tersebut mampu menuntaskan Tarawih pada pukul 20.00 Wib , namun karena Pak AR membaca surat-surat panjang dalam setiap raka’atnya dan dilakukan dengan sangat tumaninah maka sudah pukul 20.30 Tarawih baru mencapai raka’at ke delapan. Usai salam, beliau pun berbalik ke arah hadirin,”Bapak-ibu sekalian, mengingat waktu, apakah akan kita selesaikan sampai 20 raka’at atau kita Witir saja?” Bisa ditebak, kan, apa jawaban jamaah yang sudah kepayahan dan pastinya sangat mengantuk tersebut? Serempak, jamaah  memilih Witir.

Banyak kisah inspiratif dari KH.AR Fachruddin yang biasa santai dalam setiap dakwahnya
Banyak kisah inspiratif dari KH.AR Fachruddin yang biasa santai dalam setiap dakwahnya (Sumber gambar : klik disini)

Dialog Pak AR dengan jamaah shalat Terawih ini mengisyaratkan bahwa dalam berdakwah perlu menggunakan metode serta  bahasa yang baik sehingga meskipun terkadang terjadi perbedaan namun tidak menimbulkan konflik.  Meskipun demikian   guyonan dalam berdakwah tetap  harus memperhatikan norma-norma atau etika yang sesuai. Hal ini sesuai dengan pribahasa  arab:

لكلّ مقال مقام ولكلّ مقام مقال

Artinya  : “setiap perkataan itu ada tempatnya dan setiap tempat itu ada perkataaanya.” (QS. Yusuf: 108).

Jangan sampai guyonan atau candaan kebablasan sehingga pengajian berubah menjadi atraksi lawakkan dan memang ini sudah lazim di masyarakat sehingga kesan dari jamaah pengajian jika ditanya tentang pengajianya mereka menjawab ustadznya bagus, dagel dan lucu.  Mubaligh Muhammadiyah tidak seharusnya larut dalam kelaziman yang ada di masyarakat tersebut namun harus mampu hadir sebagai Mubaligh profesianal meskipun tetap harus mengelaborasi guyonan yang sesuai (guyon ning maton) dalam dakwahnya, mengingat kemasan (packaging) dakwah Muhammadiyah yang dilakukan selama ini  dianggap oleh sebagian orang masih terasa normatif, kering, kurang adaptif, dan bahkan kehilangan selera humor.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...