Bacaan Al-fatihah bagi Ma’mum dalam Shalat Berjama’ah

PERTANYAAN : Seringkali muncul pertanyaan di masyarakat kaitannya dengan bacaan Al-fatihah makmum dalam shalat berjama’ah. Apakah makmum tetap membaca surat Al-fatihah dalam shalat berjama’ah? Karena ada yang berpendapat  bahwa  bacaan Al-fatihah dalam shalat berjamaah sudah dicukupkan oleh imam.

Dalam beberapa kasus yang terjadi di masyarakat memang banyak pertanyaan yang saudara ajukan, tentang masalah apakah makmum masih wajib membaca Al-fatihah atau cukup diwakili oleh imam. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita harus melihat sumber-sumber yang membahas perkara tersebut baik dari Al-quran, Al-hadits serta pendapat-pendapat para ulama madzhab sebagai bahan dalam memutuskan tuntunan menurut paham Muhammadiyah.

Muhammadiyah mempunyai ciri khusus dalam masalah ibadah, yaitu tidak sebagaimana umumnya dalam kitab-kitab fikih, di mana terdapat syarat, rukun, dan mana yang wajib atau sunnat pada suatu macam rangkaian ibadah. Semuanya tersusun dalam bentuk “tuntunan” tanpa menyebut status hukum dari perbuatan, perkataan, dan rangkaian ibadah tersebut. Argumentasi yang dipegang oleh Muhammadiyah adalah bahwa terjadinya pokok pangkal yang menimbulkan perselisihan dalam masalah ibadah ini adalah karena para ulama terdahulu dalam menghukumkan sesuatu ibadah tersebut antara satu dengan yang lainnya berbeda. Seperti dalam kitab Bidayah al-mujtahid oleh Ibnu Rasyd, dikemukakan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai bacaan Al-Fatihah bagi ma’mum, antara lain :

Pertama, Imam Malik berpendapat bahwa ma’mum dalam shalat sirri membaca Al-Fatihah bersama-sama imam, dan tidak membacanya dalam shalat jahar.

Kedua, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bacaan Al-Fatihah gugur pada pihak ma’mum, baik pada shalat sirri maupun pada shalat jahar.

Ketiga, Imam Syafi’i berpendapat bahwa ma’mum wajib membaca Al-Fatihah saja adalah shalat jahriyah, dan membaca Al-Fatihah beserta surat apabila shalat sirriyah.

Keempat, Imam Ahmad ibn Hanbal mewajibkan membaca Al-Fatihah waktu tidak terdengarnya bacaan imam, baik karena bacaannya sirr atau karena jauhnya, dan melarang membacanya waktu didengarnya bacaan imam.

Meskipun para ulama berbeda-beda mengenai bacaan Al-Fatihah bagi ma’mum dalam shalat berjama’ah, Muhammadiyah dalam mengambil keputusannya tetap melihat pendapat yang mendekati atau sesuai dengan apa yang tersebut di dalam hadits shahih. Penulis melihat dalam Lajnah Tarjih menyebutkan :

“Hendaklah kamu memperhatikan dengan tenang bacaan Imam apabila keras bacaannya, maka janganlah kamu membaca sesuatu selain surat Al-Fatihah.”

Jadi melihat keputusan di atas, muhammadiyah berpendapat bahwa ma’mum tetap harus membaca Al-Fatihah pada shalat jahar maupun dalam shalat sirri, dengan mendasarkan pada dalil yang digunakannya ialah sebagaimana dicantumkan dalam HPT sebagai berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (مسلم).

ولحديت عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ « إِنِّى أَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ ». قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِى وَاللَّهِ. قَالَ « فَلاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ (رواه الترمذي). ولما رواه ابن حبان من حديث انس قال: قال رسول الله صلعم.: اتقرءون فى صلاتكم خلف الامام والامام يقرأ؟ فلا تفعلوا، واليقرأ احدكم بفا تحة الكتاب فى نفسه.

Artinya: “Mengingat Hadis ‘Ubadah ibn Shamit bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Tiada sah shalat orang yang tak membaca permulaan Kitab (al-Fatihah)” (HR. Muslim). Dan ada lagi Hadis ‘Ubadah dari riwayat sunan Turmudzi, katanya: “Rasulullah SAW. shalat shubuh, maka beliau mendengar orang-orang yang ma’mum nyaring bacaannya. Setelah selesai beliau menegur: Aku kira kamu sama membaca di belakang imammu? Kata ‘Ubadah: Kita sama menjawab: Ya Rasulallah, demi Allah, benar!. Maka sabda beliau: Janganlah kamu mengerjakan demikian, kecuali dengan bacaan al-Fatihah”. Dan mengingat pula Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Annas, yang berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Apakah kamu membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam itu membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah seseorang membaca al-Fatihah pada dirinya (dengan suara rendah yang hanya didengar sendiri)”

Kesimpulan

Kesimpulannya, berdasarkan pembahasan tersebut di atas, pendapat Imam Syafi’i lebih diterima oleh Muhammadiyah. Karena mengamalkan apa yang telah diriwayatkan dalam hadits Nabi saw, yaitu ma’mum dalam shalat berjama’ah tetap membaca surat Al-Fatihah, baik dalam shalat bacaan imam jahar maupu sirri.

Surah Al Fatihah
Surah Al Fatihah
Gambar Bacaan Al-fatihah bagi Ma’mum dalam Shalat Berjama’ah
Redaksi Utama
REDAKSI MEDIA ONLINE PDM KOTA YOGYAKARTA; Alamat Sekretariat / Kantor : Jalan Sultan Agung Nomor 14 Kota Yogyakarta. Kode Pos 55151; pdmjogja@gmail.com

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...