Awas, Banyak Anak KUDIS-an

Kudis… kita tahu termasuk salah satu jenis penyakit kulit. Tapi kudis yang satu ini bukan termasuk penyakit kulit. Kudis. Kepanjangan dari Kurang Disiplin. Banyak anak sekolah yang kurang disiplin. Tidak bisa mematuhi peraturan sekolah. Sekolah yang membuat peraturan untuk ditaati, bukan dilanggar. Sebagai contohnya, sekolah wajib menggunakan atribut sesuai dengan yang diberikan. Namun terkadang anak tidak memakai nama, tanda kelas masih kelas sebelumnya (padahal sudah naik kelas), dan sebagainya.

Kudis-an juga masih sering terlihat saat upacara bendera hari Senin. Masih ada beberapa anak yang tidak memakai topi. Padahal topi diciptakan untuk melindungi kepala dari panasnya matahari. Bukankah upacara memerlukan waktu paling cepet 30 menit untuk memaksa anak berdiri di bawah sinar matahari. Tetapi masih ada saja yang tidak disiplin dengan tidak memakai topi.

Sebagai warga Muhammadiyah, kedisiplinan diajarkan sejak dini. Seperti shalat tepat waktu. Anak akan dipukul jika setelah umur 10 tahun tidak mau menjalankannya. Ini menandakan bahwa sejak usia dini anak harus diajarkan sikap disiplin sehingga kelak dewasa akan menjadi pribadi yang taat pada aturan, tanpa dipaksa oleh siapapun.

Penyakit kudis lain yang sering kita temui adalah saat bel tanda pelajaran dimulai (atau diakhiri). Anak yang disiplin akan berangkat dan tiba di sekolah beberapa menit sebelum bel pelajaran berbunyi. Paling tidak 5 menit sebelumnya. Namun anak yang kudisan paling cepet bersamaan dengan bel berbunyi, bahkan bisa terlambat 10-15 menit.

Juga saat jam pelajaran berakhir, anak kudisan akan buru-buru meminta gurunya mengakhiri pelajaran, dengan berbagai alasan seperti : waktu tinggal lima menit, kelas lain sudah bubar atau bahkan berdalih sudah selesai ulangannya. Sedangkan anak yang memiliki kedisiplinan tinggi tentu hal itu tidak akan berpengaruh pada dirinya. Ia akan mengikuti keputusan gurunya, pulang atau melanjutkan pelajarannya.

Kudisan juga sering ditemui saat ulangan berlangsung. Masih ada beberapa anak yang tidak percaya akan kemampuannya sendiri sehingga memutuskan menyontek dari teman sebangkunya. Bahkan ada juga yang membuka buku demi mendapatkan nilai baik. Hal ini menandakan bahwa anak-anak masih jauh dari kedisiplinan.

Contoh penyakit kudis yang lain adalah larangan merokok. Jelas-jelas terpampang dalam pintu masuk sekolah Kawasan bebas asap rokok. Namun lihatlah bagaimana keadaan anak yang mencuri-curi waktu, kesempatan dan tempat untuk merokok. Seperti di kantin atau kamar mandi. Hal ini tentu melanggar aturan sekolah. Ketahuan atau tidak oleh pihak sekolah bukan sebagai boomerang namun yang paling penting adalah bagaimana menanamkan prinsip kejujuran dan kedisiplinan bagi anak.

Anak yang terbebas dari penyakit kudisan tentu tidak akan ikut-ikutan merokok di sekolah, dimana pun itu. Entah ada yang melihat atau tidak, entah ketahuan atau tidak. Bukankah Allah Swt selalu mengamati setiap detik langkah perbuatan yang kita lakukan?

Anak yang bebas dari kudis juga tidak akan ikut-ikutan tawuran. Mengapa terjadi tawuran antar pelajar itu karena banyak anak yang kudisan. Sudah jelas tertulis peraturan sekolah, tidak boleh membawa rokok, senjata tajam, berkelahi, berkata bohong, dan sebagainya. Anak yang disiplin tidak akan melanggar apa yang sudah menjadi peraturan sekolah.

Oleh karena itu, marilah menjaga agar virus penyakit kudis tidak sampai menyerang kita. Kita jaga kesehatan dengan mematuhi peraturan sekolah, tidak mudah terpancing emosi dan yang paling penting jangan ikuti budaya bodoh yang tidak mengajarkan pada kedisiplinan. Karena masa depan ditentukan hari ini, dari setiap langkah saat ini. Sekali salah dalam melangkah bisa berakibat terjangkit virus bahkan bisa mati. Semoga kita semua terhindar dari berbagai macam penyakit. Hidup Disiplin.

Penyakit kudis lain yang sering kita temui adalah saat bel tanda pelajaran dimulai dan diakhiri
Penyakit kudis lain yang sering kita temui adalah saat bel tanda pelajaran dimulai dan diakhiri (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Edukasi Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2013 dimuat kembali untuk tujuan dakwah 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait