As – Sima’ [Madarijus Saalikin]

Ibnu Qayyim Al – Jauziyah menyataka bahwa kalimat iyyaka na’budu wa iyyaka nastain memiliki beberapa tempat persinggahan, di antaranya adalah As – Sima’ (mendengarkan). As – Sima’ merupakan mashdaf seperti kata an-niyyah. Allah telah memerintahkan kepada hambaNya — di dalam kitab suciNya — untuk memiliki As – Sima’ ini, memuji para pelakunya dan mengabarkan bahwa mereka pada saat yang telah ditentukan akan mendapat ‘kabar gembira’. [Madarij as-Salikin, I/481]

Dalam hal ini, Allah berfirman:

“Sekiranya mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan patuh, dengarlah dan perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat.” [QS an- Nisa’/4 : 46]

“Maka sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memunyai akal.” [QS az-Zumar/39 : 17-18]

Sima'

Pendengaran yang diberikan Allah dan mereka yang bisa mendengar merupakan bukti bahwa mereka mengetahui pengabaran tentang diri mereka. Jika tidak, berarti mereka tidak mempunyai bukti itu.

Allah berfirman,

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada diri mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar, dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling juga.” [QS al-Anfal/8 : 23]

Allah mengabarkan tentang musuh-musuh-Nya, bahwa mereka tidak mau mendengar dan menghalangi orang lain untuk mendengar,

“Dan orang-orang yang kafir berkata, Janganlah kalian mendengar dengan sungguh- sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” [QS Fushshilat/41 : 26]

As-sima’ merupakan utusan iman ke hati, penyeru dan pengajarnya. Berapa banyak disebutkan di dalam al-Qur’an, “Tidakkah kalian mendengar?” Ia merupakan dasar akal dan asas iman untuk sesuatu yang dibangun di atasnya, juga merupakan penuntun, tangan kanan dan pendampingnya. Tapi yang lebih penting lagi adalah apa jenis yang didengarkan. Inilah yang menjadi pangkal perbedaan pendapat dan juga kesalahan di kalangan manusia.

Hakikat as-sima’ merupakan peringatan bagi hati tentang makna yang didengarkan. Penggeraknya adalah pencarian, penghindaran, cinta dan kebencian, yang merupakan pendorong bagi setiap orang hingga dia berada di tempat berpijaknya. Di antara mereka ada yang mendengar dengan naluri, hasrat jiwa dan nafsunya. Tentu saja yang demikian ini sejalan dengan pembawaannya. Di antara mereka ada yang mendengar beserta Allah dan tidak mau mendengar dengan selain Allah. Yang pasti, pembicaraan tentang As-sima’ harus dikaitkan dengan pujian dan celaan, yang berarti harus ada kejelasan tentang gambaran yang didengarkan, hakikat, sebab, pendorong, hasil dan tujuannya. Dengan uraian di bawah ini bisa dirinci masalah as-sima’ ini, dapat dibedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya, mana yang haq dan mana yang batil, mana yang terpuji dan mana yang tercela. (Madarij as- Salikin, I/482)

Al-Harawi — dalam kitab Manazilus-Sa’irin — menjelaskan, bahwa As- sima’ itu ada 3 (tiga) derajat :

(1) As-sima ’-nya orang-orang awam,

yang meliputi tiga hal : Mengikuti pemenuhan celaan terhadap peringatan, mengusahakan pemenuhan seruan janji, dan memerhatikan pencapaian kesaksian karunia.

Peringatan di sini bisa berarti mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Mengikuti ini merupakan ketaatan kepada Allah, karena Allah-lah yang memerintah, melarang dan menjanjikan. Mengerjakan apa yang diperintahkan didasarkan pada cahaya iman dan mengharap pahala. Meninggalkan apa yang dilarang pun juga didasarkan kepada cahaya iman, karena takut siksaan.

Mengusahakan pemenuhan janji maksudnya melakukan perintah karena mengharapkan apa yang dijanjikan, dengan berusaha semampu mungkin.

Sedangkan maksud memerhatikan pencapaian kesaksian karunia ialah memerhatikan bahwa semua kebaikan yang diperoleh merupakan karunia dari Allah, padahal belum tentu dia berhak mendapatkan karunia itu.

Firman Allah,

“Mereka merasa telah memberikan nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislaman kalian, sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada keimanan jika kalian adalah orang- orang yang benar.” [QS al-Hujurat/49 : 17]

Begitu pula keduniaan yang tidak didapatkannya atau musibah yang menimpanya, maka semua itu dari Allah, yang haras diterima dengan nalar yang sehat. Di antara orang salaf berkata, “Wahai anak Adam, kamu tidak tahu mana di antara 2 (dua) nikmat yang paling baik bagimu”. Umar bin al-Khaththab berkata, “Aku tidak peduli apa yang terjadi pada diriku di waktu pagi atau petang hari. Jika ada kekayaan, maka itu perlu disyukuri, dan jika ada kemiskinan, maka harus sabar.Nikmat Allah yang diberikan kepadamu ataukah nikmat-Nya yang disingkirkan darimu.

(2) As-sima’-nya orang-orang khusus,

yang meliputi tiga hal: Memersaksikan maksud dalam setiap simbol, memerhatikan tujuan di setiap waktu, dan tidak membebaskan diri dari kenikmatan perpisahan.

Memersaksikan maksud dalam setiap simbol, artinya memersaksikan keberadaan Allah dalam segala sesuatu, karena semua yang bisa didengar memerkenalkan Allah, sifat, asma’, janji, ancaman, perbuatan, hukum, perintah, larangan, keadilan dan karunia-Nya.

Memerhatikan tujuan di setiap waktu artinya mencari dan mengadakan perjalanan agar dengan apa yang didengarkan dapat menghantarkan ke tujuan, yaitu Allah.

Sedangkan tidak membebaskan diri dari kenikmatan perpisahan, artinya memisahkan diri dari makna-makna yang didengar, karena dengan mengalihkan hati darinya bisa mendatangkan kenikmatan.

(3) As-sima’-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus

ialah : [a] as-sima’ yang menyingkirkan penghambat hati untuk penyingkapan, [b] as-sima’ yang menghantarkan keabadian (kekekalan, tak pernah berakhir) ke keazalian (tak berawal dan tak berakhir) dan [c] as-sima’ mengembalikan kesudahan (an-nihayah) ke permulaan (al- bidayah).

Maksud as-sima’ yang pertama, menyingkirkan penghambat hati untuk penyingkapan ialah: penyingkapan hakikat apa yang didengarkan, sehingga tidak ada lagi syubhat dan tidak ada penghalang antara ‘yang mendengar’ dan ‘Yang Didengar’. Sedangkan yang kedua dan ketiga, jika dipahami menurut zhahirnya termasuk sesuatu yang mustahil, karena masing-masing berlawanan (kontadiktif). Oleh karenanya harus dipahami makna majazinya.

Ilustrasi As Sima' mendengarkan Allah
Hakikat as-sima’ merupakan peringatan bagi hati tentang makna yang didengarkan. Penggeraknya adalah pencarian, penghindaran, cinta dan kebencian
Gambar As - Sima' [Madarijus Saalikin]
Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Keraton periode 2015 - 2020, Pengisi tetap di kajian Baitul Hikmah PDM Kota Yogyakarta untuk kajian Kitab Madarijus Saalikhin

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...