Arah Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

Muhammadiyah telah dinilai sukses dalam membangun gerakan kemanusiaan yang terbingkai dalam tiga komponen besar yaitu gerakan pendidikan, gerakan kesehatan dan kerakan sosial seperti panti asuhan, masjid dan lainnya. Dengan tiga basis gerakan tersebut Muhammadiayah mampu mandiri dalam menjalankan organisasi tersebut. Tak dapat di pungkiri melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM),  Muhammadiyah mampu memijak di bumi Indonesia dan memasuki abad ke-duanya.

AUM memiliki peran yang cukup besar dalam menciptakan sejarah pergerakan Muhammadiyah di Indonesia. Kehadiran AUM yang terus meningkat mengindikasikan bahwa Muhammadiyah telah sukses mengawal agenda gerakan kemanusiaan di Indonesia. Dengan demikian Muhammadiyah telah berperan membantu negara dalam turut serta mencerdaskan dan kesejahteraan sosial.

Namun, perlu diperhatikan juga bahwa peran AUM juga setidaknya harus dibarengi dengan gerakan baru. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KH Ahamad Dahlan dalam kemandirian ekonomi. KHA Dahlan seorang pedagang batik yang menjajakan usahanya ke berbagai daerah. Proses penjajahan barang ke berbagai daerah yang pada akhirnya membuat Muhammadiyah terus terkenal dan membesar.

Bahkan berdasarkan keanggotaan Muhammadiyah sebagaimana yang dikisahkan oleh Abdul Munir Mulkhan bahwa Anggota Muhammadiyah banyak yang berlatarkan pengusaha. Dengan banyaknya pengurus Muhammadiyah yang menjadi pengusaha saat itu memungkinkan gerakan Muhammadiyah berjalan dengan baik hingga memasuki abad ke-dua.

Agaknya contoh yang diberikan KHA Dahlan dan sebagian besar Anggota Muhammadiyah pada saat itu memacu pemikiran untuk melahirkan gerakan pengusaha dilingkungan Muhammadiyah. Walaupun anggapan terkait dengan misi besar untuk melahirkan jalan usaha juga belum nmenjadi arus besar dalam pemikiran Muhammadiyah, setidaknya dapat diupayakan untuk sebagai cikal bakal gerakan Muhammadiyah abad ke-dua.

Persoalan ekonomi menjadi persoalan dasar yang harus diselesaikan dalam bangsa ini. menurut penuturan Soekarno yang memotivasi gerakan kolonialisme dan imperalisme jaman dahulu itu dipicu oleh motif untuk menguasai ekonomi suatu negara. maka tak salah jika para pendiri bangsa mencantumkan demokrasi ekonomi sebagai orientasi perekonomian yang mandiri untuk mampu terwujud di negeri Indonesia.

Persoalan ekonomi menjadi persoalan dasar yang harus diselesaikan dalam bangsa ini
Persoalan ekonomi menjadi persoalan dasar yang harus diselesaikan dalam bangsa ini (Sumber gambar : klik disini)

Oleh karena itu, dalam suatu ikhtiar menciptakan gelombang gerakan ekonomi Muhammadiyah. Perlulah kiranya pemikiran tentang gerakan ekonomi Muhammadiyah segera untuk diproduksi. Dengan demikian Muhammadiyah berberan sebagai gerakan yang membantu negara, setidaknya untuk mensejahterakan angota Muhammadiyah dengan memasifkan gerakan ekonomi.

Dalam muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makasar agaknya pemikiran gerakan ekonomi mulai terasa kumandangnya. Ada suatu cita-cita dan harapan bagaimana gerakan Muhammadiyah melalui bidang ekonomi. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Prof Din Syamsudin bahwa perlu kiranya Muhammadiyah mulai merintis gerkan ekonomi misalnya dengan mendirikan perusahaan farmasi, melihat kebutuhan obat untuk Rumah saki Muhammmadiyah cukup besar.

Menurut Musa Asy’arie (Buku Meretas Jalan Baru Ekonomi Muhammadiyah, 2000: 109-113) dalam  ada beberapa bidang kegiatan usaha dalam skala besar yang perlu menjadi fokus perhatian dan pemikiran mendalam dari gerakan ekonomi persyarikatan Muhammadiyah, yang terkait dengan potensi pasar yang dimilikinya untuk pemberdayaan ekonomi umat yaitu;

Pertama, lembaga keuangan. Uang yang berputar diantara AUM tentulah sangat teramat besar, sebagai indikator antara lain adalah pengadaan obat untuk salah satu rumah sakit (1990-an) berkisar lebih dari 500 juta rupiah. begitu juga dengan pemasukan SPP salah satu Perguruan Tinggi yang mencapai Milyaran rupiah.

Untuk menunjang perputaran uang yang ada di AUM, kiranya perlu dilakukan perhitungan secara lebih akurat, tentang besarnya perputaran uang yang ada di AUM yang cukup banyak jumlahnmya, dan dari perhitungan itu selanjutnya dapat dilakukan studi kelayakan untuk mendirikan lembaga keuangan. Lembaga keuangan Muhammadiyah ini nantinya bisa mengambil bentuk perbankan pada umumnya, atau lembaga khusus yang keperluannya untuk pembiayaan investasi serta pengembangan usaha. Dan tentunya melalui program kerjasama dengan berbagai pihak, yang saling memberikan keuntungan dengan prinsip-prinsip moral dan spiritualitas.

Kedua, Industri. Sektor usaha satu ini perlu segera dikembangkan yang menunjang pengadaan barang dan perlengkapan yang diperlukan secara rutin oleh Muhammadiyah sebagaimana misalnya Industri obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan obat Rumah Sakit Muhammadiyah. Begitu juga misalnya industri kertas, industri peralatan dan perlengkapan pendidikan dan laboraturium.

Dengan aset tanah wakaf yang cukup besar, yang belum dapat diproduktifkan secara optimal kiranya perlu pemikiran untuk pengembangan agro –industri yang terpadu, sejak dari penanaman dan pertanian, sehingga pengelolaan hasil tanaman dan pertanian itu, dengan manajemen industri akan membawa nilai manfaat yang besar.

Ketiga, Trading (Perdagangan), Usaha trading dilakukan dalam skala yang besar, yang berbasis penunjangnya suda ada pada unit-unit usaha kecil, yang tersebar diberbagai AUM yangdikordinir dalam satu atap, dikelolah secara medern dengan menggunakan teknologi yang canggih dan modern. Sebagai contoh misalnya perdagangan untuk melayani barang-barang yang dibutuhkan oleh warung-warung, kantin-kantin, toko-toko dan waserda serta koperasi yang ada dilingkungan AUM.

Usaha trading juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak, terutama dengan kalangan prosusen yang memiliki produk yang dibutuhkan oleh AUM atau anggota Muhammadiyah. Dengan adanya kerjasama dalam memenuhi kebutuhan maka dengan demikian semua pihak akan mendapatkan keuntungan, baik Muhammadiyah sebagai institusi ataupun lembaga yang diajak kerja sama.

Melalui Arah gerakan ekonomi Muhammadiyah yang terfokus dan memahami kondisi Muhammadiyah. Dengan demikian Muhammadiyah akan mampu mandiri secara ekonomi. Ini agenda Muhammadiyah abad ke-dua yang perlu difikirkan bersama.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Muamalah Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel Sebelumnya10 Kata Terlarang Untuk Anak
Artikel BerikutnyaTangga Perekat Pernikahan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait