Apakah Majaphit Kerajaan Hindu Budha

Gambar Apakah Majaphit Kerajaan Hindu Budha
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dalam Kitab Nagara Krtagama, termasuk transkrip yang ada pada buku karya Prof. DR Drs I Ketut Raina, S.U. yang diterbitkan oleh penerbit Kompas tahun 2009 tertulis “sang cri natha ri wilwatikta haji rajasanagara wicesa bhupati” atau dalam buku Prof Ketut Raina tertulis “sang sri natha ri wilwatikta haji rajasa nagara wisesa bhupati”, yang artinya ada gelar haji yang disandang oleh Sri Rajasanegara. Kalau kita baca dalam Kitab Nagara Krtagama sedikitnya ada 45 kata “haji”. Nah, apa arti itu semua maka di tulisan lain kita akan membahasnya, bukan di tulisan ini. Saya mengutipnya di bagian ini, karena di belakang nanti ada hal yang menyinggung tentang sebutan “haji” itu.

Di sini saya hanya akan membahas makna kasogatan dalam kitab Nagara Krtagama. Saya sengaja membuka kembali catatan saya tentang kitab Nagara Krtagama dan harus mengingat kembali hasil ngaji saya pada orang yang saya tahu banyak mempelajari dah ahli dalam membaca manuskrip jawa, mas Herman Sinung Janutama. Ilmu saya terlalu dangkal dalam membaca manuskrip jika dibandingkan dengan mas Herman.

Arkeolog dan penulis buku “Catuspatha: Arkeologi Majapahit” mengungkapkan, keyakinan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha didasarkan pada sumber-sumber arkeologi yang sebenarnya punya peringkat tersendiri, dan menurutnya Penulis (Kasultanan Majapahit) kemungkinan tidak mengerti pemeringkatan itu. Agama Gajah Mada sendiri dipercaya oleh sang Arkeolog adalah Buddha. Dalam argumentasi sang Arkeolog, bukti penguatnya adalah catatan kitab Negarakertagama yang menyebut bahwa setelah pensiun, dia dianugerahi tanah Kebuddhaan yang bernama Madakarupira. Lokasi tanah itu berada di selatan Pasuruan.[1]

Arkeolog tersebut menyebut itu adalah tanah Kabuddhaan barangkali karena seperti pendapatnya bahwa makna kasogatan adalah Kebuddhaan. Untuk menjernihkan hal tersebut mari kita buka bagian yang dimaksud sang Arkeolog tersebut. Kisah itu termuat dalam Pupuh 19 Bait ke-2, yaitu: “wwanten darmma kasogatan prakacite madakaripura kastaweng lano,simanugraha bhupati san apatih gajamada racalnanyan uttama, yekanung dinunung nareswara pasangrahanira pinened rinupaka, andondok mahawan rikang trasunay andyus i capahan atirthacewana.”.

Saya tidak akan memaparkan terjemahan saya dahulu tentang hal itu, tapi saya kutipkan terjemahan Prof Ketut agar pembaca mendapat gambaran berdasar pertimbangan lain untuk memahami bait tersebut. Terjemahan Prof Ketut tertulis demikian: “Terdapat Panti Kasogatan terkenal di Madakari Pura sangat Indah, tanahnya anugerah Baginda Raja pada Patih Gajah Mada pengaturannya amat bagus,itu dikunjungi oleh Baginda Raja pesanggrahannya ditata dengan hiasan yang serasi,segera menuju ke sungai lalu mandi pada mata air serta melaksanakan puja penyucian.”.

Sampai di sini dulu, saya ingin mengatakan bahwa jika kita melihat isi lebih lengkap dari bait ini saja maka penerjemahan Kasogatan sebagai Kabuddhaan adalah sekedar tafsir dari sang Arkeolog. Sebagai Arkeolog yang tahu adanya pemeringkatan sumber-sumber Arkeologi, ternyata tidak menunjukkan satupun artefak yang mendukung tafsir makna Kasogatan. Mana artefak yang Kasogatan sebagai simbol budha? Beliau hanya mengatakan, sekali lagi dalam tafsirnya, bahwa ”Tidak ada Dharmmadyaksa ring Muslimah atau lainnya.”

Kata Kasogatan sesungguhnya berasal kata sogata yang dalam istilah jawa dekat dengan makna “pengaosan” yang kira-kira semacam pengajian atau pengkajian. Sampai hari ini kata itu masih digunakan oleh kalangan masyarakat Jawa untuk acara-acara pengajian dan pagelaran wayang oleh Dhalang. MC sering mengatakan “Sugeng midhangetaken PaSUGATAn ringgit sedalu natas” dan semacamnya.

Bahasa Sansekerta sudah digunakan jauh sebelum Majapahit ada. Namun salah satu yang saya belajar dari Mas Herman Janutama ialah bahwa selain bahasa Sansekerta ada juga yang disebut dengan bahasa Prakerta. Kalau bahasa Sansekerta adalah bahasa yang digunakan untuk menyebutkan hal-hal luhur dan agung, tinggi, suci, dan mulia, maka yang disebut bahasa Prakerta adalah bahasa sehari-hari yang lazim digunakan oleh orang-orang India Selatan, akan tetapi tidak ada jejak penggunaannya di bumi nuswantara. Karena agama adalah hal yang dianggap luhur, maka pengajaran agama menggunakan bahasa Sansekerta. Itu artinya, bahasa Sansekerta seperti kata “Kasogatan” itu tidak mencerminkan suatu agama apapun, kecuali untuk menjelaskan sebuah pengkajian agama sesuai makna katanya.

Jika menengok bait selanjutnya, yaitu pada Pupuh 20, maka penafsiran Kasogatan sebagai Kabuddhaan semakin tidak relevan lagi. Disebutkan: “praptang deca kasogatan sahana mawwat bhakta pane haji, pratyekanya gapuk sadewi cisayen icanabajrapageh, ganten poh capahan kalampitan ing lumbang len kuran we ptang, mwan pancar prasamanca ning kuti munguh kapwa tacrang mamark.”.

Bisa jadi sang Arkeolog dalam mengemukakannya berpedoman pada terjemahan Prof Ketut yang mengartikan “praptan deca kasogatan sahana mawwat bhakta pane haji” dengan “Sampai di Desa Kasogatan semua mempersembahkan makanan pada Baginda Raja”, yang tak memiliki dukungan data Arkeologis. Karena Prof Ketut lalu menerjemahkan baris-baris selanjutnya sebagai nama-nama (empat belas) Desa Kasogatan. Coba cari di selatan Pasuruan, tidak akan ditemukan data Arkeologis nama-nama desa-desa Gapuk, Sadewi, Wasisaya, Isana Braja,Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lumbang, Len Kuran, We Petang, Pancar, dan dua nama desa lagi yang disebutkan dalam bait ke-2 Pupuh 20 itu.

Sekali lagi perlu dipahami bahwa bahasa Sansekerta bukanlah bahasa sehari-hari, namun digunakan untuk menyebutkan hal-hal luhur dan agung, tinggi, suci, dan mulia. Kalau saya membaca bait tersebut terjemahan secara kasarnya kira-kira seperti ini: “Sesampainya di dessa kasogatan (tempat para guru ngaji / mandala / pesantren) Sahana di dalamnya untuk bakti para haji. Datanglah pemuka desa tersebut dengan istrinya… pelindung yang kokoh. Ganti dari kedhung capahan yang ditandakan dalam Kuran (al-Qur’an)….”. dari sini silahkan direnungkan apa kata “Kasogatan” dalam Nagara Krtagama menunjukkan Majapahit bukan Kerajaan Islam?

Sebagai catatan, untuk memahami Majapahit sebaiknya lebih banyak mencari data-data yang bersifat artefak dan perlu kritis terhadap data-data transrip dari berbagai manuskrip yang sampai ke kita. Ini termasuk transkrip kitab Pararaton karya Brandes dan kitab Nagara Krtagama. Sebagai gambaran, naskah Nagara Krtagama pertama kali ditemukan oleh Brandes “baru” pada tahun 1894 di puing-puing reruntuhan Keraton Kasultanan Islam Cakranegara Lombok, lalu disalin oleh Brandes. Selanjutnya sekitar tahun 1975, kitab Nagara Krtagama ini disalin di 5 (lima) Pura besar di Bali oleh Profesor DR Raden Benedictus Slamet Mujana sehingga karena ada salinan itu dianggap sebagai legalisasi bahwa kitab Nagara Krtagama adalah kitab Hindu. Adapun transkrip yang ada dalam buku Prof. DR. Drs. I Ketut Riana, S.U. sesungguhnya berasal pada hasil revisi dari beberapa naskah yang dianggap kurang lengkap oleh penyadurnya yaitu Ida I Dewa Gde Catra dari Puri Kanginan Sidemen Karangasem Bali. Penyaduran karya sastra itu dilakukan Ida I Dewa Gde Catra atas perintah mantan Gubernur Provinsi Bali Prof. dr. Ida Bagus Oka. Sebagai sebuah saduran dan revisi, tentu tidak akan sama dengan aslinya.

Sekali perlu ditegaskan bahwa kitab Nagara Krtagama pertama kali ditemukan di puing-puing reruntuhan Keraton Kasultanan Islam Cakranegara Lombok. Lebih jauh lagi, dalam tradisi lisan masyarakat Lombok diyakini bahwa Gajahmada itu seorang muslim. Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB, dalam sebuah acara pada tanggal 17 Juni 2017 sebagaimana video yang diunggah di Youtube menyebutkan keyakinan masyarakat Lombok berdasarkan petilasan Gajahmada di Lombok, bahwa Gajahmada itu seorang Muslim[2]. Tradisi lisan bisa menjadi bahan untuk melakukan re-check penulisan sejarah yang berasal dari sumber-sumber sekunder, apalagi tersier.

Sekali perlu ditegaskan bahwa kitab Nagara Krtagama pertama kali ditemukan di puing-puing reruntuhan Keraton Kasultanan Islam Cakranegara Lombok
Sekali perlu ditegaskan bahwa kitab Nagara Krtagama pertama kali ditemukan di puing-puing reruntuhan Keraton Kasultanan Islam Cakranegara Lombok (Sumber gambar : klik disini)

Melihat sejarah transkrip naskah kitab Nagara Krtagama yang seperti itu maka penggunaannya sebagai sumber sejarah Majapahit tentu harus dengan kritis kalau mau menggunakannya, atau setidaknya disekunderkan setelah artefak dan sumber-sumber primer lainnya. Salah satu contohnya sebagai catatan ketika membaca buku Nagara Krtagama karya Prof. DR. Drs. I Ketut Riana, S.U., dalam transkripnya tidak ditemukan kata hasballah yang ada pada Pupuh 1, meskipun di halaman 30 kata itu disebutkan sebagai judul sub bab, yaitu sub bab 5.1.

Demikian paparan ini, saya kira jelas apa yang saya sampaikan bahwa kata Kasogatan bukanlah bukti bahwa Gajahmada beragama Budha. Itu hanyalah tafsir yang tak didukung artefak dan manuskrip yang terpercaya. Demikian juga, kata tersebut tidak bisa digunakan untuk membantah inskripsi di nisan Maulana Malik Ibrahim yang yang dijadikan dasar Mas Herman Sinung Janutama untuk menyimpulkam bahwa bentuk kerajaan Majapahit adalah Kasultanan.

Fakta pengaruh Islam di Kerajaan Majapahit jelas tidak bisa ditolak tersebar di buku-buku sejarah. Bahkan dalam buku “Kasultanan Majapahit” yang ditulisnya mas Herman Sinung Janutama berani mengajukan pandangan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kasultanan atau Kerajaan Islam. Tentu itu bukan sekedar hasil otak atik iseng, namun memiliki bukti untuk menguatkan pandangan tersebut. Bukti yang paling jelas dikemukakan oleh mas Herman Sinung Janutama tertulis dalam inskripsi berangka tahun 1419 M yang terdapat di makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Angka tahun di makam itu memberi informasi bahwa kehidupan Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim itu satu era dengan Raja Hayam Wuruk (memerintah tahun 1350-1389).

Informasi yang sangat jelas tertulis pada baris ke-4 dan ke-5 dari 7 baris tulisan berbahasa Arab bergaya kufi pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim tersebut. Disebutkan Mafakhor al ‘umara’ yang menunjukkan bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah ulama-waliyullah kebanggaan bagi kemulyaan pemerintah negeri (Majapahit). ‘Umdat as Salaatin wa al wuzara yang artinya beliau adalah ulama-waliyullah junjungan para sultan dan para menteri. Muhibb al masaakin wa al fuqara yang artinya beliau sangat mengasihi orang-orang miskin dan fakir. Al sa’id al sahid yang artinya beliau wafat sebagai syuhada yang berbahagia, yang dalam istilah orang Jawa mencapai moksa. Burhaan ad dawlah wa addin yang artinya beliau menjadi bukti tegaknya negara dan tegaknya agama.

Adanya penulisan bahwa Maulana Malik Ibrahim sebagai junjungan (yang menguatkan dan mengokohkan) para Sultan itu konsekuensinya mengizinkan penulisan Majapahit sebagai Kasultanan. Inskripsi itu sangat jelas dan tidak bisa diartikan lain, bahwa Raja-raja Majapahit yang bertahta itu adalah para Sultan dan karenanya Kerajaannya bisa disebut Kasultanan. Pendapat tersebut tentu saja bisa disanggah atau dikritisi, tentu jika harus dengan bukti kuat yang membatalkannya. Jika sanggahannya sekedar tafsir atas tafsir artefak atau manuskrip yang tidak jelas menyebutkan sanggahannya, tentu tidak bisa digunakan untuk menggugurkannya sebagai temuan sejarah. Seperti halnya adanya banyak patung-patung dewa di Candi-candi yang disebut Candi Hindu, apakah itu bukti Ke-Hindu-an Majapahit? Saya berharap di tulisan-tulisan berikutnya hal ini bisa saya jelaskan.

Tulisan ini, adalah bagian awal dari rangkaian tulisan untuk membahas kembali “Kasultanan Majapahit” yang di era PDM kepemimpinan pak Marwazi, tema ini menjadi salah satu kajian LHKP (Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik). Apa yang saya tulis ini, tak lain adalah lahir dari penelusuran atas temuan mas Herman Sinung Janutama yang dikaji dan pada akhirnya dibukukan “atas urunan” beberapa peserta Kajian, lalu diterbitkan atas nama LHKP untuk memudahkan pengurusannya. Karena itu tulisan-tulisan ini, saya persembahkan untuk guru saya dalam hal ini Mas Herman Sinung Janutama dan teman-teman peserta kajian “Kasultanan Majapahit” era 2006-2010. Terutama sekali kepada almarhum mas Noor Patria Setiawan yang menjadi pintu penghubung saya dengan komunitas LHKP pada waktu itu, semoga segala amal kebaikannya diterima Allah SWT dan segala dosanya diampuni.

Catatan Kaki
  • [1] Lihat http://sains.kompas.com/read/2017/06/22/190852523/agama.gajah.mada.dan.majapahit.yang.sebenarnya.akhirnya.diungkap
  • [2] https://www.youtube.com/watch?v=T_t8ayum3p4&t=10s

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...