Andai Engkau Tahu Bunda Kartini

Oleh : Ngatilah,S Pd (Guru IPA SMP Muh. 6 Yogya)

Bulan April belum lama berlalu. Kita bangsa Indonesia pada bulan itu tepatnya tanggal 21 April memperingati Hari Kartini. Banyak kegiatan-kegiatan yang diadakan khusus pada hari itu. Mengingat hari Kartini adalah hari yang sangat istimewa terlebih bagi kaum ibu / perempuan.

Perjuangan ibu Kartini mengangkat derajat kaum perempuan, yang pada jaman dahulu derajat kaum wanita sangat berbeda dengan kaum laki-laki. Sekarang sudah banyak dirasakan hasilnya. Antara kaum laki-laki dan perempuan sudah sejajar.

Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya. Bangsa yang selalu menjunjung tinggi jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela tanah air. Pahlawan yang membaktikan diri, berlaga di medan perang menumpas penjajah bangsa yang menindas rakyat. Juga pahlawan yang memperjuangkan kemajuan dan kemakmuran bangsa.

Atas jasa perjuangan Ibu Kartini, kaum perempuan di negeri ini sekarang sudah bisa mengenyam pendidikan setara dengan kaum laki-laki. Sehingga sekarang banyak perempuan yang bisa meraih gelar dan titel serta kedudukan yang tinggi .Tak jarang pemimpin-pemimpin perempuan yang bisa sukses. Perempuan-perempuan srikandi bangsa mulai bermunculan semenjak hak-haknya diperjuangkan oleh Ibu Kartini.

Selagi disana sini masih saja diselenggarakan peringatan Hari Kartini. Di bangku sekolah para guru masih bercerita tentang jasa dan perjuangan Ibu Kartini, tersiar dan tertulis berita dimedia cetak dan elektronik, tentang kejadian-kejadian yang mengoyak rasa kemanusiaan, menegakkan bulu roma. Yaitu peristiwa pemerkosaan, pembunuhan, penembakan, penyayatan dan lain-lain yang mayoritas korbannya adalah kaum perempuan.

Peristiwa-peristiwa yang tak selayaknya terjadi. Tak selayaknya dilakukan oleh makhluk Tuhan yang bernama manusia. Sebab di dalam diri manusia itu ada satu hal yang membedakan dengan makhluk Tuhan yang lain, yaitu akal. Menurut penelitian ada bagian otak yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC), yang terletak di otak besar bagian depan. PFC dalam bahasa awam lebih dikenal dengan akal/pikir yang bisa membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.

PFC ini merupakan bagian otak yang hanya dimiliki oleh manusia. Fungsinya yaitu manusia berkemampuan memiliki etika, memahami benar dan salah, bertanggung jawab untuk berkonsetrasi, berpikir kritis, mengendalikan diri, merancang masa depan, menentukan pilihan, membedakan hal baik dan buruk, menimbang dan mengingat dan lainnya. PFC berfungsi seperti pemimpin, yaitu bertugas mengambil keputusan.

Dari pemahaman ini, maka benarlah bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang bertugas sebagai kolifah di muka bumi. Manusia-lah yang mampu mengatur tata kehidupan di muka bumi ini, dalam hal ini terkait dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan.

Benarkah manusia bisa sebagai kolifah di muka bumi? Pertanyaan sederhana ini tidak cukup dijawab “Ya” atau “Tidak”. Karena jawabannya memerlukan pembuktian. Kata “Kolifah” artinya “Pemimpin”. Maka seorang pemimpin mempunyai tugas dan tanggung jawab dari ketugasannya untuk dapat dipertanggung jawabkan. Kepada siapa? Kepada pamberi amanah, yaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana ketika di muka bumi ini terjadi kerusakan? Siapa yang betanggung jawab? Jawabnya tentu saja adalah kolifahnya, pemimpinnya, yaitu “Manusia”. Dan kerusakan yang terjadi tidak hanya menyangkut kerusakan alam saja tetapi justru menyagkut juga pada “manusia” itu sendiri. Apa yang akan terjadi jika manusianya yang telah rusak?

Pertanyaan itulah yang akan dikemukakan terkait dengan kejadian sekarang. Akhir-akhir ini, di bulan April lalu hingga bulan Mei ini, banyak terjadi kejahatan, kekerasan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kebanyakan korbannya adalah kaum perempuan. Sangat ironis! Kaum perempuan baru saja memperingati hari Kartini. Yaitu hari dimana kita mengingat jasa tokoh perempuan yang bejuang memperjuangkan nasib kaumnya.

Andai engkau tahu Bunda Kartini? Alangkah sedih hatimu. Andai engkau tahu Bunda Kartini? Betapa banyak air matamu engkau tumpahkan di bumi pertiwi ini. Meratapi kaummu. Kaum yang ratusan tahun lalu engkau perjuangkan nasibnya, kini banyak yang menjadi korban kebiadaban manusia biadab yang sudah tidak mempunyai nurani. Manusia yang tidak lagi menggunakan akal sehatnya. Manusia yang tidak berakhlak. Manusia yang tidak lagi bisa menjalankan fungsinya sebagai kolifah.

Andai engkau tahu Bunda Kartini? Betapa engkau akan meratap! Jika mendengar kaummu yang masih muda belia, berusia belasan tahun diperkosa belasan orang, sampai meninggal! Ada kaum-mu yang dicekik, dibunuh, jasadnya disembunykan hingga membusuk, untuk dirampas hartanya! Ada kaum-mu yang menjadi incaran kejahatan dimana-mana. Seberapa banyak-kah air mata dukamu mesti tumpah wahai Bundaku Kartini? Andai Engkau Tahu!

Kejahatan telah mengoyak nurani luhur manusia! Terlebih kita bangsa Indonesia. Bangsa yang tersohor sebagai bangsa yang santun. Masyarakatnya yang kondang dengan sikapnya yang ramah dan berbudi luhur. Gotong royongnya yang terkenal sejak dari nenek moyang kita. Tetapi, “na’udzubilah”, ada banyak kejadian-kejadian kejahatan yang menodai predikat kebaikan bangsa ini.

Semua yang terjadi ini mendai bahwa karakter anak-anak bangsa sudah mulai terkikis. Apa yang menyebabkannya? Banyak faktor yang melatar belakangi terkikisnya karakter manusia. Kemajuan jaman yang sangat pesat tanpa diimbangi pemahaman agama, merupakan salah satu dari sekian banyak faktor penyebab itu. Agama merupakan benteng yang kuat. Pendidikan merupakan jalur yang tepat untuk dapat menyusuri jalan menjadi insan cerdas yang berkualitas.

Anak-anak telah ikut larut dalam kemajuan teknologi yang pesat, sehingga berbagai informasi dengan mudah diaksesnya melalui berbagai media. Sementara anak-anak belum cukup memiliki banyak bekal pemahaman agama. Anak-anak belum matang kepribadiannya, belum paham tentang budi pekerti, unggah-ungguh, tata cara kehidupan bermasyarakat dan lainnya. Anak-anak tumbuh menjadi mausia dewasa fisiknya tetapi belum dewasa kepribadiannya, mentalnya, akhlaknya, moralnya dan juga karakternya.

Maka seiring bejalannya waktu jadilah mereka orang-orangdewasa yang hidup dengan akhlak rendah, dengan karakter yang rusak, dengan pribadi yang rentan konflik.  Mereka belum dewasa secara psykis. Mereka tumbuh dan berkembang  tanpa arah yang benar, sehingga mencari pembenaran sendiri. Pembenaran yang ditentukannya sendiri tanpa mengenal norma, adat, tata krama, tata aturan hukum baik hukum negara maupun hukum agama.

Pendidikan yang tinggi tidak menjamin seseorang menjadi pribadi yang baik, jika tidak diimbangi dengan pemahaman agama yang tinggi. Bahkan mungki dapat menelorkan insan-insan cerdas yang lebih berbahaya, semisal : melakukan kejahatan dengan memanfaatkan ilmunya yang tinggi.

Pendidikan agama merupakan benteng kuat yang dapat membentengi berbagai kerusakan. Dan ketika masyarakat kita ayom-ayem tata titi tentrem, kerta raharja. Insaallah bukan kita saja yang mersakan hasilnya. Namun para pejuang yang telah mendahului kita mjungkin juga tenteram di Surga Allah sana.

Tenanglah engkau para pahlawan pejuang bangsa di Surga Allah. Tenanglah engkau Ibunda Kartini yang pada hari peringatan akan jasamu banyak terjadi kejahatan terhadap kaum-mu. Kum perempuan yang semestinya dilindung oleh kaum lelaki. Kaum perempuanlah yang telah melahirkan anak-anak di muka bumi ini.

Bahkan di dalam ajaran agama Islam ada sunnah Nabi Muhammad SAW, bahwasanya seorang anak untuk menghormati ibunya 3x lipat dari menghormati Bapaknya. Ini memberi isyarat pada kita bahwa kaum perempuan mutlak kita hormati. Bahkan ada pepatah “Surga di bawah telapak kaki ibu”

Betapa mulia ajaran dalam agama ini jika semua orang bisa melakukannya dengan baik dan benar. Dan ketika semua orang bisa melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar insaallah terbentuk masyarakat yang “Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur”. Aamiin.

Atas jasa perjuangan Ibu Kartini, kaum perempuan di negeri ini sekarang sudah bisa mengenyam pendidikan setara dengan kaum laki-laki
Atas jasa perjuangan Ibu Kartini, kaum perempuan di negeri ini sekarang sudah bisa mengenyam pendidikan setara dengan kaum laki-laki (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Kartini Bulan 7 Tahun 2016 , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaKepemimpinan Ilahiyah
Artikel BerikutnyaIroni Jual Beli Organ Tubuh

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait