Anak Kita Bukan Anak Ayam

PENULIS Syamsu Nur R, S.Psi (Konselor SD Muh Sagan)

Tuntutan kebutuhan hidup yang kian kompleks, ditambah dengan hasrat untuk bersaing agar tidak tertinggal jauh dari yang lain, telah mendorong banyak orang untuk begitu sibuk dengan pekerjaan, dengan obsesi untuk suskes. Pada sisi yang lain, banyak orang mengejar karier, jabatan, dan strata sosial yang tinggi di masyarakat, hanya demi pemenuhan ego atau ke-aku-an diri mereka sendiri. Hal itu, seringkali membuat waktu yang mereka berikan untuk anak-anak mereka hanyalah waktu sisa, tenaga sisa, dan pikiran sisa. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memberikan kebutuhan psikologis bagi anak-anak mereka.

Memang dengan kelimpahan materi, memungkinkan orang tua untuk memberikan banyak hal yang diinginkan oleh anak-anak mereka. Juga dengan strara sosial yang tinggi di masyarakat, barangkali dapat membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Namun, bila orang tua lebih sibuk atau bahkan hanya fokus dengan pekerjaan, dengan obsesi untuk sukses, dengan dunia dan diri mereka sendiri, maka besar kemungkinan akan ada banyak kebutuhan psikologis anak-anak mereka yang terabaikan. Dan lebih berbahaya lagi, bila orang tua sudah merasa bertanggungjawab, merasa menjadi orang tua yang baik dan berhasil, hanya dengan mengenyangkan anaknya, membelikan apa yang mereka ingin, atau menyediakan berbagai fasilitas bagi anaknya.

Anak anak kita bukan anak ayam, yang hanya cukup kita buatkan kandang, kita bersihkan, kita beri makan, kita kenyangkan, dan akan besar dengan bobot yang membanggakan. Ketidaksadaran tentang kebutuhan psikologis seorang anak, seringkali membuat orang tua, secara tanpa dasar, telah memperlakukan anak-anak mereka sendiri seperti anak ayam.

Apakah anda meluangkan waktu untuk sekedar berbincang dengan anak-anak anda tentang apa yang ia lakukan di sekolah? Apakah anda menyediakan waktu untuk mengajari anak-anak anda tentang pelajaran yang ia anggap sulit? Pernahkah anda meminta maaf kepada anak-anak anda? Dan seberapa sering anda memeluk anak anak anda, dengan tulus, dengan senyuman, dan tawa-tawa yang lepas?

Bila jawabannya tidak, maka agaknya anda telah memperlakukan anak-anak anda sendiri seperti seekor anak ayam, yang hanya cukup dengan kandang dan makanan. Bila anda hanya sekedar memberinya tempat tinggal yang mewah, dengan beragam fasilitasnya, maka anak-anak anda akan merasa diabaikan, merasa disingkirkan, tidak dicintai, tidak disayang, tidak diperhatikan. Mengapa? Sebab ia bukan anak ayam. Ia anak manusia yang memiliki kebutuhan psikologis untuk difahami, diperhatikan, dicintai, dikasihi, disayang, disentuh, diajak bicara dan sebagainya, yang seharusnya diberikan oleh orang tua mereka. Bila semua itu tidak mereka dapatkan, maka akan berdampak buruk terhadap perkembangan kepribadian mereka. Mereka bisa bersikap cuek, tidak peduli dengan diri sendiri dan orang lain, sulit untuk dapat menyayangi, emosional, mudah tersinggung dan sebagainya.

Anak-anak belum memiliki cukup kata, bahasa, dan cara yang efektif untuk dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, ketidaksenangan, kebencian, penolakan dan sebagainya, terlebih berkaitan dengan kebutuhan yang bersifat psikologis. Karena itulah, anak-anak akan melakukan protes dengan cara-cara yang seringkali tidak difahami orang tuanya. Misalnya, tidak mau dipeluk, bermain game sepanjang waktu, malas belajar, mogok sekolah, mogok makan dan sebagainya. Celakannya, orang tua seringkali hanya melihat perilaku anak itu sebagai sesuatu yang buruk, salah, dan nakal, lantas dengan penuh semangat memarahi anaknya dengan pola pikirnya sendiri. Bagaimana kalau mogok belajar atau bermain game terus menerus itu sebagai bentuk protes si anak atas orang tuanya yang hanya sibuk dengan pekerjaannya, dengan dirinya sendiri? Tentulah persoalannya akan semakit ruwet dan kompleks. Di satu sisi, orang tua mengangap anaknya susah di atur, sementara di sisi lain, sang anak merasa bahwa orang tuanya tidak peduli, tidak memahami akan anaknya. Sebagai penutup, saya ingin sajikan sebuah cerita, yang akan memperjelas bahwa seorang anak membutuhkan lebih dari sekedar tempat tinggal dan fasilitas. Anak-anak sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang dan cinta dari orang tua mereka. Dan itu, tak tergantikan oleh apapun dan siapapun.

Komunikasi anak dan ayah
Penting berkomunikasi dengan anak karena anak bukan sekedar peliharaan (Sumber gambar : klik disini)

Seperti biasa, Agung, pekerja keras di sebuah perusahaan swasta terkemuka, tiba di rumah pukul 7 malam, bahkan kadang jam 9. Dan tidak seperti biasanya, Satya, anak pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD, telah lama menunggu untuk membukakan pintu bagi ayahnya.

“Kok belum tidur ?” Sapa Agung, sambil mencium anaknya. Biasanya, Satya memang sudah tidur ketika ayahya pulang, dan baru bangun ketika ayahnya akan berangkat ke kantor. Sambil membuntuti ayahnya, Satya menjawab: “Aku nunggu ayah pulang. Aku mau tanya berapa sih gaji ayah?”.

“Lho, kok tumben, nanya gaji ayah. Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”. “Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah dalam satu bulan berapa hayo?”. Satya, berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Agung beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Satya berlari mengikutinya. Lalu: “Kalau satu hari ayah dibayar Rp. 400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000 dong” . “Wah pinter. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok”. Kata Agung, memberi perintah. Satya tidak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Satya kembali bertanya.

Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000 nggak?”. “Sudah, nggak usah aneh-anah. Buat apa minta uang malam-malam begini. Ayah capek, mau mandi dulu. Sudah, tidur sana.”.             “Tapi ayah…”

“Ayah bilang tidur!” Agung membentak. Satya berbalik, dan menuju ke kamarnya. Setelah mandi, Agung merasa menyesal telah membentak anaknya. Ia pun menengok Satya di kamarnya. Ia mendapati Satya sedang bicara sendiri sambil memegangi uang Rp 15.000. Sambil berbaring dan mengelus kepala anaknya, Agung berkata: “Maafkan ayah, Satya. Ayah sayang sama Satya. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Berapapun ayah akan kasih.”. “Ayah, aku ngga minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan minggu ini”.

“Iya, tapi buat apa?”. “Aku menunggu Ayah dari jam 6. Aku mau ajak main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Nah, ibu sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku ada Rp. 15.000. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp. 40.000, maka setengah jam harus Rp. 20.000. Uang tabunganku kurang Rp 5.000. Makanya, aku mau pinjam dari ayah.” Mendengar penuturan Satya, Agung benar-benar tersentak. Tak ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutnya. Dan perlahan-lahan, ia peluk anaknya erat-erat. Air matanya mengalir, lalu berkata pelan penuh penyesalan: “Maafkan, maafkan ayah nak…”

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Child Education Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Anak Kita Bukan Anak Ayam
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...