Amal Beragama, Nasehat KH. Ahmad Dahlan Untuk Bekal Kehidupan

Apa yang di butuhkan orang beriman di Dunia ini? Apakah sekedar hidup, apakah sekedar bernafas, apakah sekedar makan dan minum. Perlu disadari bahwa orang beriman hidup bukan sekadar hidup tapi bagaimana dia hidup. Sebagai seorang hamba-Nya tidak hanya melakukan kesadaran bahwa hidup ini selesai ketika kita menjadi seorang yang beriman dan berislam saja. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabut : 2). Orang yang beriman tak luput dari ujian yang Allah swt berikan, oleh karena itu mari kita berusaha untuk dapat melalui ujian tersebut dengan jalan yang Allah swt tunjukan dalam Al-Qur’an dan Rasulullah saw ajarkan dalam hadits.

Memaknai hidup sebagai ujian dan ujian sebagai tantangan kehidupan adalah sikap yang bijak sebagai hamba-Nya. Hidup yang benar akan membawa dampak ketenangan dalam jiwa orang beriman, dan melalui ujian hidup dengan jalan yang benar akan menyempurnakan kualitas dan derajat kita sebagai orang beriman. maka bekal kehidupan itulah yang perlu dicari dan didapatkan bahkan dilaksanakan. Bekal kehidupan yang dimaksud adalah amal beragama. Dari sini kita menghayati bagaimana nasehat dari KH. Ahmad Dahlan untuk terus melakukan Amal beragama sebagai wujud aktualisasi diri orang beriman dan khususnya warga persyarikatan.

Ahmad Dahlan selalu menyampaikan peringatan kepada umat bahwa kita, manusia ini hidup hanya sekali untuk bertaruh, sesudah mati akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah?. Manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama-ulama itu dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. dan mereka yang beramalpun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas atau bersih.[1]

KH. Ahmad Dahlan selalu menyampaikan peringatan kepada umat bahwa kita, manusia ini hidup hanya sekali untuk bertaruh, sesudah mati akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah
KH. Ahmad Dahlan selalu menyampaikan peringatan kepada umat bahwa kita, manusia ini hidup hanya sekali untuk bertaruh, sesudah mati akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah (Sumber gambar : klik disini)

Beliau berkata : “Teori-teori pimpinan tentang rencana, program sangat muluk-muluk memenuhi bumi tetapi tidak diamalkan. Padahal pelajaran agama sungguh telah terang dan jelas bagi orang yang mendapat petunjuk, akan tetapi pengaruh hawa nafsu sangat merajalela sehingga akal fikiran menjadi buta”. KH. Ahmad Dahlan mendahulukan beramal, mendirikan mushola, madrasah dan mengadakan pengajian-pengajian, dakwah, membela dengan harta dan jiwa untuk menegakan agama Islam. Kemudian setelah beramal terus memberi keterangan-keterangan lisan tentang kewajiban kita kepada Islam. Praktek amalan yang dilakukan oleh beliau sangat membantu meningkatkan kualitas hidup umat Islam saat itu. Untuk contoh beramal maka hal itu akan relevan dalam setiap zaman bahwa orang yang berbuat lebih akan dapat merubah keburukan menjadi kebaikan daripada hanya orang yang berbicara saja. Karena manusia berada pada dimensi ruang dan waktu yang senantiasa bergerak. Jika tidak melakukan perubahan lewat amal, maka yang terjadi umat justru mengalami kemandekan dan untuk memajukan potensi umat Islam akan sangat sulit.[2]

Pemikiran KH. Ahmad Dahlan tidak nampak membicarakan masalah Teologi. Menurut KH. Mas Mansur, dalam masalah ini beliau kembali kepada pendapat ulama salaf dan beliau tidak suka berfikir yang mendalam tentang hal itu. Pemikirannya memang banyak menunjukan segi praktis dari agama. Masalah ketuhanan yang banyak menimbulkan perbedaan pendapat dan tidak berakibat praktis yang menghasilkan amal kurang mendapat perhatian. Itulah maknanya, dia mengartikan orang beragama sebagai orang yang melahirkan amal[3]. Pengertian orang beragama menurut orang beragama menurut KH. Ahmad Dahlan adalah orang yang jiwanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari lainnya. Bersih tidak dipengaruhi oleh lain-lainnya hanya tertuju kepada Allah, tidak tertawan kebendaan dan harta benda, dengan bukti dapat dilihat menyerahkan harta benda dan dirinya kepada Allah.[4]

Ahmad Dahlan pernah menerangkan bagaimana cara mempelajari Al-Qur’an yaitu ambilah satu, dua atau tiga ayat dibaca dengan tartil dan tadabbur dengan cara bertanya Bagaimana artinya? Bagaimana tafsir keterangannya? Bagaimana maksudnya? Apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? Apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? Sudahkah kita menjalankan?[5] Bila belum dapat menjalankanya dengan sesungguhnya maka tidak perlu membaca ayat-ayat lainya. Beliau gemar sekali menelaah ayat-ayat al-Qur’an dan pandai tentang hal itu. Pertama kali dia menyelidiki tiap-tiap perkataan dalam ayat satu demi satu. Dilihatnya kekuatan atau perasaan yang terkandung dalam perkataan itu didalam ayat-ayat yang lain, kemudian disesuaikan. Beliau mengerjakan hal ini dengan sabar.

Perhatian KH. Ahmad Dahlan dalam amal beragama dikarenakan manusia dalam hidupnya terus bergerak dan bergerak mengarah kepada kematian. Akhir hidup itulah yang pasti dialami oleh seluruh manusia terlebih lagi orang beriman, di akhir hidup itulah apakah orang beriman benar benar dapat melalui ujian hidup. selain perhatian, KH. Ahmad Dahlan juga merasakan keprihatinan terhadap manusia yang beriman apakah ia hidup hanya hidup dan tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat dan meningkatkan kualitas sebagai hamba dengan memperbanyak amal?. Perhatian dan keprihatinan sebagai seorang ulama dalam melihat tingkah laku hidup manusia yang bermacam-macam bahkan sia-sia menjadi kesadaran kususnya kepada warga persyarikatan. Amal Beragama itulah yang menjadi langkah warga persyarikatan untuk dapat mengembangkan dakwah dan membina dan mendidik umat agar tercapai tujuan.

Catatan Kaki :
  • [1] KRH. Hadjid, Pelajaran KH. Ahmad Dahlan Peajaran KH. Ahmad Dahlan 7 fasafah Ajaran dan 17 kelompok ayat Al-Qur’an (Yogyakarta : MPI PP Muhammadiyah, 2011…., hlm. 7
  • [2] Ibid., hlm. 177-178
  • [3] Yusron Asrofi, Kyai Haji Ahmad Daahlan Pemikiran dan Kepemimpinanya (Yogyakarta : Yogyakarta Offset, 1983)hlm. 33.
  • [4] KRH. Hadjid. Pelajaran KH. Ahmad Dahlan …., hlm. 23
  • [5] Ibid., hlm. 65.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait