Alih Generasi

Gambar Alih Generasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana terpukulnya keluarga dan sahabat Rasulullah Muhammad saw, saat beliau meninggal dunia. Orang yang mencintai dan menyayangi beliau tiba-tiba harus kehilangan pegangan hidup. Meskipun secara halus Rasulullah sudah mengingatkan kepada para sahabat dan handai taulan, bahwa tak lama beliau lagi akan menghadap sang Kholik. Untuk beberapa lama, kehidupan menjadi mendung. Tak ada tempat untuk mengadu. Gelayut ritme kehidupan seakan terhenti. Untunglah, sahabat Rasul telah dibekali dengan berbagai macam pondasi untuk mengatur tata kehidupan. Kerumunan manusia harus ada yang memimpin. Rupanya Rasul telah menyiapkan tenaga-tenaga muda yang kelak akan mengganti kepemimpinannya.

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana terpuruknya mental keluarga dan pengikut KHA Dahlan kala beliau juga dipanggil oleh sang Kholik. Warna hidup menjadi redup. Tidak ada orang yang selalu mengayomi. Tidak ada orang yang siap membantu, mendorong dan memberi berbagai keperluan untuk meretas kehidupan. Keluarga, kerabat, murid dan kolega beliau seperti kehilangan sebuah sosok yang hangat untuk diajak berdiskusi, luas pandangan kala dimintai pendapat dan saran, selalu siap menyediakan kebutuhan.

Sebagaimana tindakan Rasulullah, Kyai Dahlan juga memikirkan kader untuk menggerakkan umat sepeninggal beliau. Umat harus ada yang memikirkan, mengarahkan dan memotivasi. Umat Islam harus ada yang menggerakkan agar keterpurukan tidak berkelanjutan. Beliau mengandalkan pemuda untuk bertarung menghadapi jaman yang semakin komplek. Pembentukan kelompok-kelompok kecil sesuai dengan karakternya, ternyata menjadi energy yang mujarab untuk menopang cita-cita sang Kyai. Kelompok  inilah yang kelak dikemudian hari disebut sebagai organisasi otonom. Mereka inilah yang diberi keleluasaan untuk mengembangkan dan membina generasi untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Hizbul Wathan cukup beruntung, disamping ‘Aisyiyah(dahulu Sopo Trisno) sebagai ortom yang disaksikan langsung oleh Kyai Dahlan.

Strategi yang dikelola oleh Kyai Dahlan, bukan hanya terbatas di lingkungan kampung atau kedaerahan. Pemikiran beliau sangat maju. Berani melintas batas kota bahkan batas propinsi. Sosiologi, demografi, antropologi dan strata sosial sudah digenggamnya jauh sebelum ilmu tersebut berkembang. Jangkauan masa depan beliau melebihi pemikiran tokoh-tokoh yang sejaman. Terbukti konggres pertama di luar jawa justru dilaksanakan di Kota Padang. Pemilihan tempat ini bukan asal dan pemilihan acak. Juga bukan karena di Padang telah muncul ulama-ulama yang telah menjadi panutan. Ditetapkannya kota Padang sebagai ajang konggres, karena orang Padang itu memiliki karakter merantau. Diharapkan Muhammadiyah cepat menyebar ke nusantara.

Bagi Kyai Dahlan, menyebarkan Agama Islam adalah wajib dengan berkelompok, berjamaah, bersyarikat. Dengan membentuk organisasi sendi-sendi dakwah menjadi kuat bila dibandingkan dengan individual. Karena syiar Islam menurut Muhammadiyah bukan hanya terbatas pada ibadah mahdhah. Bukan hanya terbatas sholat, puasa, zakat dll. Muhammadiyah mengartikan syiar adalah seluruh aspek kehidupan manusia. Setiap kebutuhan manusia, oleh Muhammadiyah dianggap sebagai obyek dan sekaligus subyek dakwah. Kesehatan, pendidikan, hubungan internasional, teknologi adalah bidang garap Muhammadiyah.  Itu semua memerlukan keahlian.

Rasulullah Muhammad saw, Kyai Dahlan, dan pemuka agama yang lain sangat sadar bahwa yang namanya makhluk pasti punah. Tidak ada yang abadi. Pembentukan kelompok-kelompok kecil yang dibimbing oleh Rasulullah di Baitul Arqam misalnya, sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan syiar Islam. Metode ini, dikemudian hari ditiru oleh organisasi-organisasi baik yang berbasis agama maupun yang lain. Demikian pula halnya dengan Kyai Dahlan.  Meskipun belum terlintas apa yang dinamakan majelis, badan lembaga, amal usha, ortom, namun Kyai sangat yakin bahwa kader harus dibentuk. Harus disiapkan dan dilatih.

Apa yang harus dipersiapkan agar proses pengkaderan berjalan baik dan memiliki progres? Paling utama adalah fisik atau raga. Muhammadiyah berpikiran bahwa kader harus memiliki fisik yang kuat. Handal segala macam cuaca. Medan dakwah Muhammadiyah tak hanya di perkotaan. Pelosok pantai, pegunungan bahkan hutan rimba adalah rambahan bagi Muhammadiyah. Untuk mengibarkan syiar Islam, Muhammadiyah sangat membutuhkan tenaga yang bertalenta tidak mudah menyerah.

Untuk bisa eksis dalam bidang iptek misalnya, kader juga harus tahan terhadap gempuran temuan teknologi yang hampir setiap menit ada yang lebih modern.  Ketahanan raga dan juga kehandalan otak harus saling bersinergi agar teknologi selalu dalam genggaman.

Persediaan kebutuhan pakan, sandang dan papan pasti akan berkurang. Alam tak akan mampu memenuhi kebutuhan manusia. Selalu menyusut. Tapi ada yang selalu berkembang, yaitu pemikiran. Wawasan akan berkembang bahkan mungkin tidak bisa diprediksi dengan statistik sekalipun. Perkembangan ilmu pengetahuan pasti akan selalu berdampak pada tata kelola kehidupan di masyarakat. Tidak ada seorangpun  akan mampu menghentikan perkembangannya. Bagi Muhammadiyah, kemajuan ilmu pengetahuan patut disyukuri sebagaimana banyak rambu-rambu dalam al-Quran dan tuntunan Rasul perihal ilmu. Namun sekaligus menjadi kekhawatiran manakala ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab kegersangan jiwa, tidak mampu menyelesaikan masalah kegundahan manusia.  Akan sia-sia bila ilmu yang bisa diperoleh tidak mampu berbuat adil.

Ilmu haruslah yang bisa membuat manusia menjadi tenteram dan damai. Inilah tugas kader. Kyai Dahlan telah merintis berdirinya sekolah modern (menurut ukuran jamannya) yang memadukan antara akal dan dzikir. Sekarang, keinginan beliau mungkin melebihi dari apa yang jadi pemikirannya saat itu. Sebaliknya, beliau juga mungkin merasa prihatin melihat perkembangan amal usaha tanpa disertai dengan ruh Muhammadiyah. Alih generasi tak hanya pergantian orang belaka. Ada yang mesti disertai, yaitu pemikiran.  Pimpinan yang baru harus mampu membuat perubahan yang lebih baik.

Fisik yang kuat, raga yang  yang perkasa, disertai dengan ilmu yang handal tidak akan cukup. Ada satu yang harus menghujam disetiap kader. Amankan ideology. Awal-awal Muhammadiyah berdiri, belum ada idiom ideology. Mungkin hanya identitas. Ideologi muncul ketika Muhammadiyah berdialog dengan maraknya partai politik. Ketika Muhammadiyah merasakan terlantar lantaran bersinggungan dengan partai politik. Beruntunglah Pimpinan saat itu mampu membuat garis penegas bahwa Muhammadiyah bukan parpol. Muhammadiyah adalah organisasi dakwah amar makruf nahi mungkar. Muhammadiyah akan senantiasa tawadlu’ terhadap ajaran al-Qur’an dan as Sunnah. Akan terus digali untuk kemaslahatan.

Pergantian pimpinan adalah pasti. Namun ideology jangan sampai memudar. Ideologi mestinya dipasarkan dengan kemasan yang menarik. Ideologi bukan hanya ditimang, dipeluk dan dipertahankan. Ideologi harus disosialisasikan kepada orang lain. Itulah tugas warga Muhammadiyah.

Kader yang diinginkan oleh Muhammadiyah seperti itu. Ketiga menjadi satu rangkaian. Ketiga syarat menjadi rantai penggerak gerbong persyarikatan. Oleh karenannya, Muhammadiyah lebih mengoptimalkan bentuk kelompok tanpa menyampingkan kemampuan pribadi. Muhammadiyah lebih tertarik kerja kolektif. Mereka menjadi terlatih karena memiliki visi dan skill yang  sama, melalui sekolah kader.

Suasana Pelatiah Organisasi PCM UH Yk
Suasana perkaderan / pelatihan di salah satu PCM sebagai bekal untuk regenerasi di Muhammadiyah

Artikel ini pernah dimuat di Manajemen Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaQuo Vadis Hizbul Wathan
Artikel BerikutnyaPedulilah Pada Isyarat Anak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait