Al – Isyfaq [Madarijus Saalikin]

Gambar Al - Isyfaq [Madarijus Saalikin]
Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Keraton periode 2015 - 2020, Pengisi tetap di kajian Baitul Hikmah PDM Kota Yogyakarta untuk kajian Kitab Madarijus Saalikhin

Beberapa saat yang lalu, kita pemah membahas tentang makna khasy-yah, yang disebut oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sebagai bagian dari tempat persinggahan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Setelah itu, beliau pun menyebut tempat persinggahan yang lain, yaitu: isyfaq, sebagaimana firmanNya,

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan adzab) Rabb mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” [QS al-Anbiya’/21 : 49]

“Dan, sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya- menanya. Mereka berkata, Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah- tengah keluarga kami, merasa takut (akan adzab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.” [QS ath-Thur/52 : 25-27].

Isyfaq — dalam pengertian etimologis – bermakna siuman atau ‘sadar. Berasal dari kata ‘asyfaqa -yusyfiqu – isyfaqan. Sedang dalam pengertian terminologis, bermankan ‘rasa takut yang amat lembut’ terhadap sesuatu atau seorang yang ditakutinya. Perbandingannya dengan rasa takut seperti rasa belas kasihan dengan kasih sayang. Jadi hal ini merupakan ‘kasih sayang yang amat lembut’. Oleh karena itu al-Harawi, di dalam kitab Manazilus-Sa’irin menyatakan bahwa ”iyfaq adalah kewaspadaan secara terus- menerus yang disertai dengan rasa kasih-sayang.

Isyfaq
Isyfaq — dalam pengertian etimologis – bermakna siuman atau ‘sadar. Berasal dari kata ‘asyfaqa -yusyfiqu – isyfaqan. Sedang dalam pengertian terminologis,

Beliau menyatakan bahwa isyfaq memiliki tiga tingkatan.

(1) Isyfaq tingkat pertama

Isyfaq terhadap jiwa, dalam ranngka mengantisipasi agar diri kita tidak terjebak ke dalam pengingkaran terhadap Allah, mengikuti jalan nafsu dan kedurhakaan serta pengingkaran ‘ubudiyah. Sedangkan isyfaq terhadap amal ialah: mengantisipasi agar diri kita tidak terjebak ke dalam tindakan (amal) yang sia-sia. Artinya kita memiliku rasa khawatir, jangan-jangan amal (tindakan) kita seperti apa yang difirmankan oleh Allah,

“Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debuyang beterbangan.” [QS al-Furqan/25 : 23]

Amal yang diibaratkan debu yang beterbangan itu ialah: amal-amal yang dimaksudkan untuk selain Allah, tidak menurut perintah-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Rasa takut ini juga berlaku untuk amal-amal yang akan datang, jangan-jangan seseorang terjebak dalam kondisi ‘meninggalkannya’ atau (dalam kondisi) kedurhakaan yang dilakukannya, sehingga amal-amal itu pun menjadi hilang maknya, sehingga keadaannya seperti apa yang difirmankan Allah,

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya [Inilah perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya karena riya, membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain, dan menyakiti hati orang].” [QS al-Baqarah/2 : 266]

Sebagai sebuah ilustrasi, kita bisa belajar pada kisah Umar bin al-Khaththab ketika bercengkerama dengan para sahabatnya.

Suatu saat, Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada para shahabat, “Kepada siapakah ayat ini diturunkan?”. Mereka pun menjawab, “Allahlah yang lebih mengetahuinya.”. Mendengar jawaban mereka ini, Umar pun marah, lalu dia berkata, “Katakan saja, kami tahu atau kami tidak tahu.”. Lalu, Abdullah bin Abbas pun berkata, ”Wahai Amirul- Mukminin, aku mempnyai selintas pengertian tentang ayat ini.”. Umar pun menyahut, ”Wahai anak saudaraku, katakanlah, dan janganlah engkau terlalu merendah diri.”. Abdullah bin Abbas berkata, ”Ayat ini merupakan perumpamaan tentang suatu amal.”. ”Amal semacam apakah itu?” tanya Umar. Abdullah bin Abbas menjawab, ”Tentang seseorang yang kaya raya dan juga rajin melakukan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengutus setan kepadanya, dan dia pun melakukan kedurhakaan, sehingga menenggelamkan semua amalnya.”.

(2) Isyfaq tingkat kedua

Isyfaq terhadap waktu, dalam rangka untuk mengantisipasi agar kita atau seseorang tidak ternodai oleh perpisahan. Dengan kata lain, seseorang mewaspadai waktunya agar tidak tercampuri sesuatu yang bisa memisahkan kebersamaannya dengan Allah. Sedangkan isyfaq terhadap hati, kalau-kalau ia terisi penghalang, apakah halangan atau hambatan yang berupa syubhat, syahwat atau sebab apa pun yang menghambat perjalanannya menuju pada kedekatannya kepada Allah.

(3) Isyfaq tingkat ketiga

Isyfaq dalam rangka menjaga upaya seorang hamba dari sikap ‘ujub, menahannya agar tidak memusuhi akhlak mulia dan membawanya agar mampu menjaga dirinya pada kesungguhannya dalam beribadah kepada Allah.

Isyfaq yang pertama berkaitan dengan amal, yang kedua berkaitan dengan akhlak dan yang ketiga berkaitan dengan kehendak. Pada masing-masing bagian ini ada sesuatu yang bisa merusaknya. ‘Ujub merusak amal. Merasa takut terhadap usahanya yang bisa dirusak ‘ujub ini dapat menjaga usaha tersebut. Memusuhi akhlak merupakan perusak akhlak. Merasa takut terhadap akhlak yang bisa dirusaknya ini dapat menjaga akhlak tersebut. Keinginan bisa dirusak oleh tidak adanya kesungguhan, yaitu canda dan senda gurau. Merasa takut terhadap keinginan yang bisa dirusak senda gurau ini dapat menjaga keinginan tersebut.

Jadi, isyfaq bisa dimaknai sebagai sebuah sikap kehati-hatian dalam rangka mengantisipasi terjadinya sesuatu yang tidak baik, dan untuk selanjutnya bersikap proaktif dengan cara melakukan tindakan apa pun yang bisa mencegah terjadinya keburukan-keburukan itu dengan jalan yang terbaik. (Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Madarijus Salikin, juz I, hal. 517­520)

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...