Al Hikmah [Madarijus Saalikin]

Gambar Al Hikmah [Madarijus Saalikin]
Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kecamatan Keraton periode 2015 - 2020, Pengisi tetap di kajian Baitul Hikmah PDM Kota Yogyakarta untuk kajian Kitab Madarijus Saalikhin

Wacana tentang ‘al-hikmah, hingga saat ni masih menjadi sesuatu yang menarik. Karena, di samping memiliki keragaman makna, kata al- hikmah mengandung pengertian yang dalam dan sarat makna.

Allah berfirman tentang al-hikmah ini,

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang- orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [QS al-Baqarah/2 : 269]

“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” [QS an- Nisa’/4 : 113]

Allah berfirman tentang Isa ‘ AS,

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil.” [QS Ali ‘Imran/3 : 48]

Hikmah di dalam al-Qur’an ada dua macam: Yang disebutkan sendirian, dan yang disusuli dengan penyebutan al-Kitab. Yang disebutkan sendirian ditafsiri ‘nubuwwah’, tetapi ada pula yang menafsiri ilmu tentang al- Qur’an.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengutip lima pendapat tentang al-hikmah yang disebut tanpa menyertakan (kata) al-Kitab.

  1. ‘Abdullah ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma: “hikmah adalah ilmu tentang al-Qur’an, yang nasikh dan mansukh, yang pasti maknanya dan yang tersamar, yang diturunkan lebih dahulu dan yang diturunkan lebih akhir, yang halal dan yang haram dan lain sebagainya.”
  2. Adh-Dhahhak: “hikmah adalah al-Qur’an dan pemahaman atas kandungannya.”
  3. Mujahid: “hikmah adalah al-Qur’an, ilmu dan pemahaman. Dalam riwayat lain darinya, dinyatakan bahwa hikmah adalah ketepatan dalam perkataan dan perbuatan.”
  4. An-Nakha’y: “hikmah alah makna segala sesuatu dan pemahamannya.”
  5. Al-Hasan: “hikmah adalah wara’ dalam agama Allah.”

Adapun hikmah yang disusuli dengan penyebutan al-Kitab ialah: as- sunnah. Begitulah yang dikatakan asy-Syafi’y dan imam-imam yang lain. Ada pula yang berpendapat, artinya “ketetapan berdasarkan wahyu”.

hikmah
Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya

Beliau, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, menyatakan bahwa pendapat yang paling tepat tentang makna al-hikmah ini adalah seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik, yaitu:

“Pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, ketepatan dalam perkataan dan perbuatan. Yang demikian ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan memahami al-Qur’an, mendalami syariat-syariat Islam serta hakikat iman.” [Madarijus Salikin, juz II, hal. 478]

Hikmah ada dua macam: Yang bersifat ilmu dan yang bersifat amal.

Yang bersifat ilmu ialah mengetahui kandungan-kandungan segala sesuatu, mengetahui kaitan sebab dan akibat, penciptaan dan perintah, takdir dan syariat. Sedangkan yang bersifat amal ialah seperti yang dikatakan pengarang Manazilus-Sa’irin, yaitu meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Menurut al-Harawi, dalam kitab Manazilus-Sa’irin, ada tiga derajat hikmah, yaitu :

Derajat hikmah yang pertama

Engkau memberikan kepada segala sesuatu sesuai dengan haknya, tidak melanggar batasannya, tidak mendahulukan dari waktu yang telah ditetapkan dan tidak pula menundanya. Karena segala sesuatu itu memunyai tingkatan dan hak, maka engkau haras memenuhinya sesuai dengan takaran dan ketentuannya. Karena segala sesuatu memunyai batasan dan kesudahan, maka engkau harus sampai ke batasan itu dan tidak boleh melampauinya. Karena segala sesuatu memunyai waktu, maka engkau tidak boleh mendahulukan atau menundanya. Yang disebut hikmah adalah memerhatikan tiga sisi ini.

Ini hukum secara umum untuk seluruh sebab dan akibatnya, menurut ketentuan Allah dan syariat-Nya. Menyia-nyiakan hal ini berarti menyia-nyiakan hikmah, sama dengan menyia-nyiakan benih yang ditanam dan tidak mau menyirami tanah. Melampaui hak seperti menyirami benih melebihi kebutuhannya, sehingga benih itu terendam air, yang justru akan membuatnya mati. Mendahului dari waktu yang ditentukan seperti memanen buah sebelum masak. Begitu pula meninggalkan makanan, minuman dan pakaian, merupakan tindakan yang melanggar hikmah dan melampaui batasan yang diperlukan. Jadi yang disebut hikmah ialah berbuat menurut semestinya, dengan cara yang semestinya dan pada waktu yang semestinya. Allah telah memusakakan hikmah kepada Adam dan anak keturun-annya. Orang laki-laki yang sempurna ialah yang memunyai hak waris secara sempurna dari ayahnya. Setengah laki- laki, seperti wanita, memeroleh setengah warisan. Hanya Allahlah yang mengetahui banyaknya perbedaan-perbedaan dalam masalah ini. Makhluk yang paling sempurna dalam pusaka hikmah ini adalah para rasul dan nabi. Yang paling sempurna di antara para rasul adalah Ulul-Azmi. Yang paling sempurna di antara Ulul- ‘Azmi adalah Muhammad SAW. (Madarijus Salikin, juz II, hal. 479)

Karena itu Allah mengaruniakan hikmah kepada beliau dan umatnya, sebagaimana firman-Nya,

“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” [QS al-Baqarah/2 : 151]

Setiap tatanan alam berkaitan dengan sifat ini, dan setiap celah di alam ini dan pada diri hamba merupakan penyimpangan dari sifat ini. Orang yang paling sempurna ialah yang paling banyak memiliki hikmah, dan yang paling tidak sempurna ialah yang paling sedikit menerima warisan hikmah. Hikmah memunyai tiga sendi: Ilmu, ketenangan dan kewibawaan. Kebalikannya adalah kebodohan, kegabahan dan terburu-buru. (Madarijus Salikin, juz II, hal. 480)

Derajat hikmah yang kedua

Memersaksikan pandangan Allah tentang janji-Nya, mengetahui keadilan Allah dalam hukum-Nya dan memerhatikan kemurahan hati Allah dalam penahanan-Nya. Artinya, engkau bisa mengetahui hikmah dalam janji dan ancaman Allah serta menyaksikan hukum- Nya dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” [QS an- Nisa’/4 : 40]

Dengan begitu engkau bisa menyaksikan keadilan Allah dalam ancaman-Nya, kemurahan Allah dalam janji-Nya, dan semua dilandaskan kepada hikmah-Nya. Engkau juga bisa mengetahui keadilan Allah dalam hukum-hukum syariat-Nya dan hukum-hukum alam yang berlaku pada semua makhluk, yang di dalamnya tidak ada kezhaliman dan kesewenang-wenangan, termasukpula hukum-hukum yang diberlakukan terhadap orang-orang yang zhalim sekalipun. Allah adalah yang paling adil dari segala yang adil.

Allah juga murah hati, yang simpanan-Nya tidak akan berkurang karena pemberian-Nya. Allah tidak memberikan karunia kepada seseorang melainkan berdasarkan hikmah, karena Allah Maha Murah hati dan Maha Bijaksana. Hikmah-Nya tidak bertentangan dengan kemurahan-Nya. Allah tidak meletakkan kemurahan dan karunia-Nya kecuali di tempat yang semestinya dan sesuai dengan waktunya, sesuai dengan takdir yang ditentukan hikmah-Nya. Andaikan Allah membentangkan rezeki untuk semua hamba-Nya, tentu mereka semua akan binasa dan rusak. Sekiranya Allah mengetahui pada diri orang-orang kafir terdapat kebaikan dan mau menerima nikmat iman serta syukur ke-pada-Nya atas nikmat ini, cinta dan pengakuan kepada-Nya, tentu Dia akan menunjukkan mereka kepada iman. Karena itu mereka bertanya kepada orang-orang yang beriman,

“Dan Demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang- orang yang Kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” [QS al-An’am/6 : 53]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan, bahwa beliau pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Mereka itulah orang-orang yang mengetahui kadar nikmat iman dan mereka bersyukur kepada Allah atas nikmat ini.”

Allah tidak memberi melainkan berdasarkan hikmah-Nya, tidak menahan melainkan berdasarkan hikmah-Nya, dan tidak menyesatkan melainkan berdasarkan hikmah-Nya pula. (Madarijus Salikin, juz II, hal. 481)

Derajat hikmah yang ketiga

Dengan tuntutan bukti engkau bisa mencapai bashirah, dengan petunjukmu engkau bisa mencapai hakikat, dan dengan isyaratmu engkau bisa mencapai sasaran. Artinya, dengan tuntutan dalil dan bukti engkau bisa mencapai derajat ilmu yang paling tinggi, yang juga disebut bashirah, yang penisbatan ilmu dengan hati sama dengan penisbatan obyek pandangan ke pandangan mata. Ini merupakan kekhususan yang dimiliki para shahabat dan tidak dimiliki selain mereka dari umat Islam, dan bashirah ini merupakan derajat ulama yang paling tinggi.

Allah berfirman,

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik.”.” [QS Yusuf/12 : 108]

Yaitu:, aku dan para pengikutku ada pada bashirah. Tapi ada pula yang berpendapat, bahwa aku menyeru kepada Allah berdasarkan bashirah, dan orang yang mengikutiku juga mengajak kepada Allah berdasarkan bashirah. [Madarijus Salikin, juz II, 482]

Pendapat mana pun yang lebih tepat dari kedua pendapat ini, yang pasti para pengikut beliau (Rasulullah SAW) adalah orang-orang yang memiliki bashirah, yang menyeru kepada Allah berdasarkan bashirah. Dengan petunjukmu engkau bisa mencapai hakikat, artinya jika engkau memberikan petunjuk kepada orang lain, maka engkau bisa mencapai hakikat. Begitu pula sebaliknya, yaitu jika ada orang lain yang memberimu petunjuk, maka engkau bisa mencapai hakikat.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...