Akreditasi Organisasi

Gambar Akreditasi Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah Muhammadiyah. Tahun 2018 kuota sekolah yang tersedia cukup banyak. Namun karena keterbatasan assessor dan anggaran beberapa sekolah terpaksa harus menerima kenyataan tidak dapat mengikuti akreditasi.

Tahap pertama akreditasi telah dilaksanakan sekitar bulan Agustus yang lalu. Tahapan tersebut menghasilkan beberapa sekolah yang memperoleh predikat sangat baik. Mereka memang sudah berpengalaman dalam mengelola sekolah dan manajemen penataan organisasinya telah berpengalaman puluhan tahun. Sebaliknya ada sekolah yang hanya mendapatkan nilai minimal, baik sekolah negeri maupun swasta. Adanya sekolah negeri mendapatkan nilai minimal karena sistem penilaian pada akreditasi sama. Butir-butir pada rubrik penilaian pun sangat jelas jenjangnya. Tidak heran, pada akhirnya nilai akreditasi ada sekolah swasta lebih unggul dibanding sekolah negeri.

Lembaga pendidikan dan juga lembaga-lembaga lainnya, diharuskan melaksanakan akreditasi sebagai perwujudan pengakuan dari orang lain (Badan Akreditasi Nasional). Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang tak luput dari penilaian. Sekolah harus melaksanakan  undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya BAB XVI, bagian kedua Pasal 60 tentang Akreditasi.

Penilaian ini dikelola langsung oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) yang telah mendapatkan pengesahan dengan Peraturan Mendiknas Nomor 29 Tahun 2005. BAN-S/M adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program atau satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada standar  nasional pendidikan.

Sebuah sekolah akan bermutu jika terdapat pengakuan dan penilaian dari beberapa pihak yang berwenang. Unsur masyarakat tentu jangan diabaikan, karena masyarakatlah yang menilai bagus tidaknya, bermanfaat ataupun malah membawa madharat sebuah institusi yang bernama sekolah. Namun sebagai sebuah lembaga pendidikan, ada kriteria yang harus dipenuhi. Ada indikator yang terkait dengan pengadaan, pengelolaan, dan evaluasi selama proses pendidikan berlangsung.

Sejalan dengan akreditasi khususnya dalam lembaga pendidikan, tidak ada salahnya bila dalam organisasi juga diselenggarakan akreditasi. Apalagi organisasi yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap organisasi harus dipandang sebagai amanah agar derap organisasi semakin bagus. Seperti telah diketahui, bahwa organisai dapat selalu hidup dan berkembang karena adanya manusia yang menggerakkannya. Manusia inilah yang nantinya sebagai aktor dalam sebuah organisasi. Tercapainya tujuan organisasi hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang terdapat pada organisasi itu. Ada hubungan yang erat antara kinerja perorangan dengan kinerja lembaga atau dengan kinerja organisasi. Bila kinerja pimpinan ataupun anggota baik maka kemungkinan besar kinerja organisasi atau perusahaan akan baik pula.

Sistem penilaian dalam akreditasi sekolah telah menggunakan tolok ukur yang telah ditetapkan, yaitu mengacu landasan hukum yang berlaku. Antar sekolah memiliki dasar hukum yang sama. Demikian pula, penilaian akreditasi berlaku pula untuk organisasi tertentu dengan mengacu aturan-aturan yang berlaku. Penilaian dalam organisasi, salah satunya dengan Balance Scorecard atau dapat disingkat dengan istilah BSC. Alat ukur ini merupakan alat ukur kinerja manajemen di masa depan. Suatu organisasi membutuhkan suatu alat untuk mengukur kinerja dalam melihat sejauh mana strategi dan sasaran yang telah ditentukan dapat tercapai, karena dengan dilakukannya penilaian kinerja dapat diketahui efektifitas dari penetapan suatu strategi dan penerapannya.

Balanced Scorecard
Format Balanced Scorecard

BSC pertama kali digunakan untuk organisasi profit dan terus menerus diperbaharui mengikuti perkembangan organisasi. Namun sekarang ini digunakan juga oleh organisasi non profit walaupun jumlahnya belum banyak. Secara tradisional, pada organisasi profit pengukuran keberhasilan ada pada profit yang terlihat di laporan keuangan. Dan pada organisasi non profit, ada pada pengakuan masyarakat.

Indikator penilaian pada organisasi masyarakat yang membakukan diri sebagai organisasi non profit antara lain :

1. Unsur masyarakat.

Organisasi mengindentifikasikan kecenderungan masyarakat. Budaya masyarakat harus dipotret dan diteropong, sehingga akan muncul kebijakan atau lebih tepatnya ajakan dari organisasi, agar kehidupan semakin baik. Tujuan pada elemen ini yaitu masyarakat lebih maju dan terpuaskan. Ukuran-ukuran yang dapat digunakan yaitu kepuasan, profitabilitas masyarakat, dan lain-lain. Namun demikian, organisasi juga bisa memberi acuan agar masyarakat bisa melaksanakan sesuai dengan visi dan misi organisasi.

2. Keuangan.

Organisasi merumuskan keuangan dan pendanaan yang dibutuhkan selama beberapa tahun kedepan. Dengan dana yang kuat dan cara mengelola dengan baik dan benar akan melahirkan organisasi yang kokoh. Uang bukanlah yang utama dalam sebuah organisasi. Akan tetapi uang memegang peranan dalam melahirkan setiap keputusan dan melaksankan keputusan organisasi.

3. Proses Internal.

Ada tiga tahap setiap akan menyelenggarakan kegiatan. Proses pertama adalah pendahuluan yang berisi data, input, rancangan dan lain-lain. Tahap yang kedua adalah proses dan berakhir dengan penutup yang berisi : kesimpulan dan evaluasi. Dari ketiga alur tersebut, tahap proses merupakan merupakan episode yang paling penting.

Didalamnya, bagaimana organisasi dapat mengubah sumber kekuatan yang dimiliki dan menafikan potensi penghambat menjadi sebuah produk yang dibanggakan. Kelangsungan organisasi dipertaruhkan dalam tahap ini. Proses membuat keputusan tidak segampang membalikkan sebuah telapak tangan. Komponen utamanya adalah inovasi, operasional dan pelayanan.  

4. Pembelajaran dan Pertumbuhan.

Infrastruktur dasar organisasi ada pada elemen pembelajaran dan pertumbuhan, karena menggambarkan kemampuan sebuah organisasi untuk dapat tumbuh dengan baik dalam waktu jangka panjang. Lapis keempat ini menunjang lapis ketiga yang mengatakan bahwa masyarakat, keuangan, dan proses internal bertemu dalam korodor pembelajaran.

Setiap tahap harus dianggap sebagai pembelajaran sekaligus pertumbuhan. Tanpa pertumbuhan organisasi akan stagnan, mandeg, yang akhirnya musnah sendiri. Tujuan periode ini adalah meningkatkan kemampuan pimpinan, staff dan semua elemen yang ada. Meningkatkan kapasitas sistem informasi, membuat setiap pimpinan dan anggota memiliki motivasi yang sama dan peningkatan keselarasan.

Setiap elemen dalam BSC terkait satu dengan yang lain dan memiliki hubungan sebab akibat. Tercapainya tujuan pada elemen pembelajaran dan pertumbuhan, proses internal, dan keuangan maka akan dapat meningkatkan pemberian pelayanan kepada masyarakat. Dalam hal ini, organisasi non profit harus dapat mengukur efektivitas dan efisiensi dalam melakukan kegiatan utamanya.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...