Agar Anak Muda Mencintai Islam dan Indonesia

Gambar Agar Anak Muda Mencintai Islam dan Indonesia
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Menjelang penghujung akhir bulan Oktober 2018, umat Islam Indonesia dibuat sesak dadanya dengan adanya kejadian pembakaran Bendera Tauhid dan ikat kepala bertuliskan kalimat tauhid pada saat peringatan Hari Santri Nasional oleh oknum Banser NU. Video pembakaran itu viral beredar di media sosial dan mendapat berbagai tanggapan warganet yang kebanyakan menyanyangkan kejadian tersebut. Dalam keterangannya ke publik Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas yang katanya langsung menelusuri video tersebut mengatakan bahwa anggotanya melihat bendera tersebut sebagai simbol bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang sudah dibubarkan oleh pemerintah. “Saya sudah cek teman-teman di Garut, tempat di mana pembakaran itu terjadi. Sudah saya tanyakan juga ke pengurus di sana, teman-teman yang membakar itu melihat bendera tersebut sebagai bendera HTI,” ujar ujar Ketua Umum PP GP Ansor yang sering disapa dengan Gus Yaqut pada hari Senin tanggal 22 oktober 2018.

Kepada media Yaqut menyampaikan perspektifnya sendiri terkait peristiwa itu. Dia mengatakan pembakaran yang dilakukan itu untuk menghormati dan menjaga kalimat tauhid. Sebagaimana diketahui, dalam bendera HTI tertulis kalimat tauhid di dalamnya. Sebagai organisasi, HTI sendiri sudah dibubarkan oleh pemerintah karena dianggap mempunyai paham anti-Pancasila. Dia memberi contoh cara yang sama akan dilakukan jika menemukan lembaran Alquran. Hal itu dilakukan agar tak terinjak-injak dan terbuang di tempat yang tak semestinya. “Saya mencoba memahami dari sudut pandang yang berbeda bahwa apa yang dilakukan teman-teman itu adalah upaya menjaga kalimat tauhid. Jika bukan bendera yang ada tulisan tauhidnya, bisa jadi, oleh mereka tidak dibakar, tetapi langsung buang saja ke comberan,” ujarnya. Menurutnya dengan membakar bendera yang ada tulisan kalimat tauhid tersebut teman-temannya ingin memperlakukan sebagaimana jika mereka menemukan potongan sobekan mushaf Alquran. Mereka akan bakar sobekan itu, demi untuk menghormati dan menjaga agar tidak terinjak-injak atau terbuang di tempat yang tidak semestinya. Terkait peristiwa itu, Yaqut mengimbau anggotanya untuk tidak lagi melakukan pembakaran. Dia meminta anggotanya menyerahkan ke aparat keamanan jika menemukan bendera serupa.

Membaca penjelasan ketua GP Anshor tersebut saya jadi ingat kisah Bishr al-Hafi yang pernah saya baca dalam situs www.nu.or.id milik organisasi Nahdlatul Ulama. Dikisahkan Bishr lahir di Merv dan menetap di Baghdad. Kisah pertobatannya diriwayatkan oleh Fariduddin al-Attar di dalam buku Tadzkiratul Auliya. Attar meriwayatkan, sewaktu muda, ia adalah seorang pemuda berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia temukan secarik kertas bertuliskan: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.

Dikisahkan kemudian malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah untuk mengatakan kepada Bisyr: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Ku-harumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti”. Lanjut cerita hingga setelah itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr juga dijuluki ‘si manusia berkaki telanjang’ (al-hafî).

Lepas dari perdebatan alasan pembakaran bendera tauhid kita tetap prihatin atas ulah anak muda yang tergabung dalam Banser NU itu. Selain masalah hukumnya biar diurusi oleh aparat penegak hukum, kita berharap para Kyai di NU bisa menasehati anak-anak muda yang ada dalam naungan Gerakan Pemuda Anshor tersebut. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak muda Islam yang kita harapkan bisa menegakkan kalimat tauhid itu di bumi nusantara ini agar Negara Kesatuan Republik Indonesia ini menjadi negeri yang penuh berkah dari Allah, menjadi Baldatun Thayibbatun wa Robbun Ghaffur.

Berkaca dengan kasus di atas maka kita jadi tahu adanya persoalan di kalangan anak muda berkaitan dengan dialektika antara keislaman dengan keindonesian dan persoalan bagaimana cara yang benar mendidik anak-anak muda untuk mencintai Islam sekaligus mencintai Indonesia. Jadi sungguh bersyukur jika di kalangan Muhammadiyah telah digodog konsepsi kenegaraan dalam sudut pandang Muhammadiyah untuk menjawab kebutuhan anak-anak muda di kalangan Muhammadiyah. Pada Mukhtamar Muhammadiyah ke-47 tahun 2015 di Makasar, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyampaikan suatu konsep kenegaraan dalam sudut pandang Muhammadiyah itu. Konsep yang berjudul “Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah” tersebut dimaksudkan untuk menjadi rujukan dan orientasi pemikiran serta tindakan bagi seluruh anggota Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara kontekstual berdasarkan pandangan Islam berkemajuan

Berkaca dengan kasus di atas maka kita jadi tahu adanya persoalan di kalangan anak muda berkaitan dengan dialektika antara keislaman dengan keindonesian
Berkaca dengan kasus di atas maka kita jadi tahu adanya persoalan di kalangan anak muda berkaitan dengan dialektika antara keislaman dengan keindonesian

Konsep yang tertulis dalam buku “Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah” didasarkan pada pemikiran-pemikiran resmi yang selama ini telah menjadi pedoman dan rujukan Muhammadiyah seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, Membangun Visi dan Karakter Bangsa, Indonesia Berkemajuan, serta hasil Tanwir Muhammadiyah di Bandung tahun 2012 dan Tanwir Samarinda tahun 2014. Dengan digulirkannya konsep itu diharapkan Warga Muhammadiyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya sebagai kekuatan mayoritas diharapkan mampu mengisi dan membangun Negara Pancasila yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Berbhineka Tunggal Ika sebagai negeri dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat sejalan dengan cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Dalam kehidupan kebangsaan, Muhammadiyah dan umat Islam sebagai golongan mayoritas memiliki tanggungjawab besar dan utama untuk menjadikan negara Indonesia sebagai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Secara konsep Indonesia sebagai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur berarti menjadi negara yang baik dan berada dalam ampunan Allah (QS Saba: 15). Di dalam negara tersebut para penduduknya beriman dan bertaqwa sehingga diberkahi Allah (QS Al-’Araf: 96), mereka membangun negeri ini dengan sabaik-baiknya dan tidak membuat kerusakan (QS Al-Baqarah: 11, 60; Ar-Rum: 41; Al-Qashash: 77). Maka dengan konsep “Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah” Muhammadiyah berkomitmen untuk terus bejuang memproyeksikan Indonesia menjadi Negara Pancasila yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam lindungan Allah SWT.

Diktum-diktum mendasar dalam Pembukaan UUD 1945 sesungguhnya teramat sangat penting dan mendasar karena mengandung jiwa, filosofi, pemikiran, dan cita-cita bernegara untuk dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan kebangsaan oleh seluruh warga dan penyelenggara negara dengan penuh makna dan kesungguhan. Di dalamnya terkandung suasana kebatinan dan spiritualitas yang didasari jiwa keagamaan dari para pendiri bangsa. Dalam pembukaan UUD 1945 maka ditegaskan bahwa para pendiri bangsa Indonesia mengakui bahwa kemerdekaan dan berdirinya Negara Indonesia itu selain atas dorongan keinginan luhur dari seluruh rakyat, pada saat yang sama merupakan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Jika dirujuk pada Sila Pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, maka negara Indonesia itu tidak dapat dipisahkan dari jiwa, pikiran, dan nilai-nilai Ketuhanan dan Keagamaan yang bebasis Tauhid. Spirit ruhaniah itu makin menguat manakala dikaitkan dengan pasal 29 UUD 1945 yang mengakui keberadaan dan kemerdekaan umat beragama untuk menjalankan keyakinan dan kepercayaan agamanya. Dalam Pembukaan UUD 1945 itu terkandung esensi nilai-nilai ketuhanan yang kuat, sehingga Indonesia dapat dikatakan sebagai Negara Pancasila yang relijius dan bukan suatu negara sekuler yang memisahkan atau menjauhkan nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dari denyut nadi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

Bahwa Negara Pancasila merupakan hasil konsensus nasional (dar al-‘ahdi) dan tempat pembuktian atau kesaksian (dar al-syahadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (dar al-salam) menuju kehidupan yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridla Allah SWT. Pandangan kebangsaan tersebut sejalan dengan cita-cita Islam tentang negara idaman “Baldatun Thayyiabtun Wa Rabbun Ghafur”, yaitu suatu negeri yang baik dan berada dalam ampunan Allah. Negara ideal itu diberkahi Allah karena penduduknya beriman dan bertaqwa (QS Al-A’raf: 96), beribadah dan memakmurkannya (QS Adz-Dzariyat: 56; Hud: 61), menjalankan fungsi kekhalifahan dan tidak membuat kerusakan di dalamnya (QS Al-Baqarah: 11, 30), memiliki relasi hubungan dengan Allah (habluminallah) dan dengan sesama (habluminannas) yang harmonis (QS Ali Imran: 112), mengembangkan pergaulan antar-komponen bangsa dan kemanusiaan yang setara dan berkualitas taqwa (QS Al-Hujarat: 13), serta menjadi bangsa unggulan bermartabat khyaira ummah (QS Ali Imran: 110). Negara Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim tersebut dalam konteks keislaman dan keindonesiaan harus terus dibangun menjadi Negara Pancasila yang Islami dan berkemajuan menuju peradaban utama bagi seluruh rakyat

Pemikiran-pemikiran tentang “Darul Ahdi Wa Syahadah” perlu dikemas secara sederhana lalu disampaikan kepada anak-anak muda Muhammadiyah agar mereka benar-benar bisa mencintai Islam dan Indonesia secara bersamaan. Jangan sampai anak-anak muda Muhammadiyah salah langkah dan gagal ikut mengelola amanah Allah berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Anak-anak muda Muhammadiyah harus tahu bahwa dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara nilai-nilai Pancasila sekarang ini belum banyak diimplementasikan sehingga penyelenggaraan pemerintahan masih diwarnai penyimpangan antara lain terlihat dari maraknya praktek-praktek korupsi, kekerasan, skandal moral, friksi-friksi dalam masyarakat, eksploitasi sumberdaya alam secara tak bertanggungjawab, kemiskinan, dan belum terwujudnya pemerataan atas hasil pembangunan nasional. Sebagian elite dan warga menunjukkan perilaku aji mumpung, menerabas, serta mengedepankan kepentingan diri dan kroni yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara. Sementara kehidupan sosial politik, ekonomi, dan budaya cenderung serba-liberal.

Anak-anak Muda Muhammadiyah harus bisa ikut mendoring Pancasila dengan lima silanya yang luhur itu bisa ditransformasikan ke dalam seluruh sistem kehidupan nasional sehingga terwujud Indonesia sebagai bangsa dan negara yang benar-benar Berketuhanan Yang Maha Esa, Berperikamanusiaan yang adil dan beradab, Berpersauan Indonesia, Berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Anak-anak muda Muhammadiyah harus bisa memberi pemaknaan Pancasila dengan nilai dan aktualisasi secara terbuka serta dinamis sehingga dapat menjadi rujukan dan panduan yang mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Referensi :

  • https://news.detik.com/berita/4267751/gp-ansor-jelaskan-soal-viral-pembakaran-bendera-tauhid
  • http://www.nu.or.id/post/read/67821/bisyr-al-hafi-waliyullah-berjiwa-sosial-yang-mantan-berandal
  • Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2015, Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah: Disampaikan Dalam Mukhtamar ke-47 di Makasar, Jakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...