Adab Dalam Bertamu

Bertamu adalah bagian dari cara bersillaturrahim. Rasulullah sosok yang santun dan sopan dalam bertamu. Beliau selalu memberikan contoh dan petunjuk bagaimana sebaiknya kita bertamu. Seperti apa adab bertamu yang sering ditauladan kepada umanya? Untuk jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:

1. Bertamu Untuk Memenuhi Undangan

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah menghadiri undangan yang ditujukan kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

Abu Hurairah RA berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”.

Orang mengundang kita untuk berbagai kepentingan. Ada undangan untuk menghadiri walimatul ‘ursy, aqiqah, lamaran, jamuan makan biasa, bermusyawarah, atau untuk kepentingan lainnya. Para ulama sepakat bahwa undangan apapun hendaknya kita sambut dengan baik sepanjang untuk kebaikan dan tidak terdapat kemungkaran di dalamnya, atau diketahui jamuan tuan rumah berumupa makanan/ minuman haram atau berasal dari yang haram.

Menghadiri undangan adalah bentuk penghormatan kepada pengundang yang berdampak memberikan perasaan senang dan bahagia. Sebaliknya, mengabaikan undangan menimbulkan kekecewaan bagi pengundang. Menyenangkan orang lain merupakan bagian dari amal shaleh.

2. Bertamu atas inisiatif sendiri

Bertamu bisa dilakukan atas inisitif sendiri untuk menyambung dan memperkuat sillaturrahim dengan para sahabat. Sillaturrahim memperluas rejeki dan memanjangkan umur, sebagaimana sabda rasulullah SAW sbb:

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR Bukhari)

Bertamu bagus dilakukan kepada sahabat yang telah lama tidak berjumpa maupun untuk menunaikan hajat lainnya seperti memberikan hadiah, oleh-oleh atau sedekah; menjenguk anggota keluarga tuan rumah yang sakit; saling bertukar informasi atau pengetahuan; mengembangkan usaha; sekedar kangen-kangenan, atau kepentingan lainnya. Apapun kepentingannya hendaklah semuanya diniatkan karena Allah semata-mata, Insya Allah membawa berkah bagi yang berkunjung maupun bagi tuan rumah.

Sebaiknya sebelum datang bertamu meminta ijin terlebih dahulu kepada tuan rumah, dan meminta saran kapan sebaiknya waktu kunjungan. Hal ini penting mengingat bahwa saat ini kesibukan seseorang semakin tinggi. Langsung datang ke rumah memang tidak ada larangan, tetapi tanpa janjian terlebih dahulu ada kemungkinan tidak ketemu atau mungkin mengganggu kesibukan utama tuan rumah. Dengan teknologi informasi yang telah berkembang saat ini, kita bisa meminta ijin melalui telepon atau sms.

Hindari pula waktu-waktu nanggung seperti waktu shalat, waktu yang dibiasakan tuan rumah untuk kegiatan penting sehari-hari seperti waktu-waktu tadarrus bakda maghrib, waktu istirahat, tengah malam dll, kecuali atas seijin tuan rumah.

3. Saat Datang Bertamu

Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat” (QS An-Nur ayat 27)

Setelah dibukakan pintu, disambut tuan rumah dan dipersilahkan duduk, duduklah dengan sikap yang sopan di tempat yang ditunjukkan buat Anda. Hindarilah terlalu banyak mengamati isi rumah apalagi memata-matai penghuni rumah.

Setelah saling menanyakan kabar dan berbasa basi sejenak, segeralah sampaikan maksud kunjungan Anda.

Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri
Ketika datang bertamu hendaklah dengan cara yang baik: mengetuk pintu dengan lembut atau menekan bel bila tersedia, mengucap salam, tersenyum dan dengan muka berseri (Sumber gambar : klik disini)

4. Menikmati Jamuan

Kewajiban tuan rumah menghidangkan jamuan bagi tetamunya, dan tetamu hendaknya menikmati hidangan yang disajikan. Hindari mencela hidangan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan bila tidak suka, maka beliau meninggalkannya (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

Makanlah dengan adab yang diajarkan Rasulullah SAW: membaca basmalah ketika hendak makan atau minum, mengambil dan menyuap makanan dengan tangan kanan, mengambil yang posisinya terdekat, dianjurkan tetap bercakap-cakap ketika makan, makan secukupnya dan tidak berlebihan, menghabiskan makanan yang diambil, dan membaca hamdalah setelah selesai (Insya Allah tentang adab makan akan dijelaskan dalam edisi tersendiri).

5. Berima Kasih dan Berdoa Kepada Tuan Rumah

Ucapkan terima kasih atas sambutan dan hidangan yang diberikan kepada Anda, dan berikan apresiasi yang tinggi atas kepada tuan rumah. Pandai berterima kasih adalah adalah salah satu ciri orang berakhlak mulia yang akan melipatgandakan nikmat Allah  kepadanya. Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS al-Baqarah ayat 172)

Kita memperoleh rejeki Allah tidak semata-mata atas jerih payah diri sendiri, tetapi selalu ada keterlibatan orang lain yang menjadi perantara datangnya rejeki tersebut. Hidangan yang berikan saat bertamu merupakan rejeki Allah  melalui perantara tuan rumah. Berterima kasih kepada tuan rumah merupakan syarat kesyukuran kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ

“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”. (HR Tirmidzi)

Apa yang dilakukan tuan hendaknya kita apresiasi dengan baik dengan memberikan komentar atau pujian yang tulus sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dari Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Bahwasanya Nabi SAW apabila berbuka puasa di suatu rumah, beliau bersabda: “Telah berbuka puasa di rumah kalian orang yang sedang berpuasa, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian dan malaikat telah turun di tengah-tengah kalian.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad)

Hendaklah berdoa untuk tuan rumah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendoakan Abdullah bin Busr setelah ia menghidangkan makanan utuk beliau:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ نَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي فَقَرَّبْنَا إِلَيْهِ طَعَامًا فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ أُتِيَ بِتَمْرٍ فَكَانَ يَأْكُلُ وَيُلْقِي النَّوَى بِإِصْبَعَيْهِ جَمَعَ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى قَالَ شُعْبَةُ وَهُوَ ظَنِّي فِيهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَأَلْقَى النَّوَى بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ ثُمَّ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ الَّذِي عَنْ يَمِينِهِ قَالَ فَقَالَ أَبِي وَأَخَذَ بِلِجَامِ دَابَّتِهِ ادْعُ لَنَا فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

Dari Abdullah bin Busr ia berkata; Rasulullah SAW mengunjungi ayahku, kemudian kami menyuguhkan makanan untuk beliau. Beliau pun makan sebagian darinya, kemudian beliau diberi kurma, dan beliau makan serta membuang bijinya menggunakan dua jari beliau. Abdullah bin Busr menggabungkan jari telunjuk dan jari tengah. Syu’bah berkata; dan itu yang aku yakini insya Allah. Dan beliau membuang biji kurma diantara kedua jarinya. Kemudian beliau diberi minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan kepada orang yang ada di samping kanannya. Abdullah bin Busr berkata; ayahku dalam keadaan memegang kendali hewan kendaraannya berkata; doakan untuk kami! Kemudian beliau berdoa: “Allaahumma baarik lahum fiimaa razaqtahum waghfir lahum warhamhum.” (Ya Allah, berkahilah mereka pada rizki yang telah engkau berikan kepada mereka, dan ampunilah dosa mereka, serta kasihilah merekah.” (HR Tirmidzi)

6. Bila harus menginap maksimal 3 hari

Bila yang dikunjungi bertempat tinggal cukup jauh dan harus menginap, maksimal boleh menginap sampai 3 hari. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ مِثْلَهُ

Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kita seharusnya memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan. Seorang muslim berkewajiban memuliakan tamunya dengan sambutan dan jamuan selama tamunya berada di rumahnya. Bertamu dalam waktu yang lama tentu dapat mengganggu aktifitas penting tuan rumah.  Oleh karena itu, Islam memberikan toleransi maksimal 3 hari kita boleh menginap dalam bertamu.

Melebihi tiga hari dapat menyebabkan tuan rumah berdosa, sebagaiman disebutkan dalam hadits dari Abu Syuraih Al Khuza’I, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Bertamu itu selama tiga hari, dan pelayanannya selama siang atau malam hari. Tidak halal bagi seorang muslim bermukim di rumah saudaranya sampai saudaranya berdosa karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dia bisa berdosa?” beliau menjawab: “Dia bermukim di rumah saudaranya hingga saudaranya tidak punya apa-apa lagi untuk menjamunya.” (HR Muslim)

7. Perhatikan Keadaan Tuan Rumah

Hendaklah seorang tamu bertenggang rasa dengan memperhatikan bagaimana keadaan tuan rumah sehingga kehadirannya dapat menyenangkan bagi tuan rumah dan tidak memberatkannya. Bila terlihat tuan rumah sedang sibuk, banyak pekerjaan, atau terlihat repot, bersegaralah menyampaikan maksud kunjungan dan jangan berlama-lama. Perhatikan pula isyarat yang diberikan tuan rumah seperti berulang-ulang melihat jam, atau terlihat gelisah, merupakan pertanda bahwa ia ingin tamunya segera pulang. Rasulullah berpesan:

وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

“Tidak halal bagi tamu berlama-lama di tempat kunjungannya sehingga memberatkan tuan rumah” (HR Tirmidzi)

Apalagi mengunjung orang sakit, sebaiknya tidak berlama-lama untuk memberikan kesempatan kepadanya beristirahat.

8. Berpamitan Ketika Selesai Urusan

Bila urusan telah selesai segeralah berpamitan kecuali ditahan oleh tuan rumah. Bedakan menahan sekedar basa basi atau menahan sesungguhnya. Kultur masyarakat tertentu ada yang menjawab pamitan tamu dengan “Kok tergesa-gesa?” atau “Mbok nanti-nanti”. Itu adalah jawaban standar basa basi atas permintaan pamit. Ucapkan salam dan tinggalkan rumah dengan senyum.

HAK-HAK TAMU

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

Dari Abu Suraih Al Ka’bi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam. Dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya;  dan tidak halal bagi tamu tinggal (berlama-lama) sehingga memberatkannya.”

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan interaksi dengan orang lain. Bertamu dan menerima tamu adalah aktivitas yang hampir terjadi pada setiap orang. Rasulullah SAW memerintahkan kita bersillaturrahim, dan salah satu bentuknya dengan saling mengunjungi. Aktifitas ini mempererat hubungan dan memupuk kasih sayang antara pihak yang berkunjung dengan yang dikunjungi. Memiliki hubungan baik dengan banyak orang memicu kebahagiaan dan membuat hidup kita terasa indah.

Bagaimana perasaan Anda ketika semua orang menghormati, menyayangi, memperhatikan, dan mengapresiasi Anda? Pastinya Anda merasa berbunga-bunga. Perasaan ini memicu otak mengeluarkan hormon endorfin yang membuat kita merasa senang bahagia. Kebahagiaan membuat kita bersemangat menjalani aktifitas sehari-hari dengan enerjik. Itulah modal berharga menuju kesuksesan.

Sebaliknya hubungan buruk dengan orang lain membuat dunia ini terasa sempit dan hidup menjadi sulit. Pernahkan Anda dibenci dan dilecehkan orang? Sangat tidak enak bukan? Setiap kita tahu ada orang yang membenci, jantung berdegup lebih keras dan berdebar-debar. Hormon adrenalin dan noradrenalin mengalir deras membuat pembuluh darah menyempit menimbulkan perasaan cemas, khawatir, dan takut.

Bertamu dan menerima tamu merupakan amal untuk membina hubunan baik. Kita bisa mengunjungi saudara, kerabat, sahabat, relasi, dan lain-lain. Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan tentang adab bertamu yang membawa berkah bagi orang yang bertamu dan yang menerima tamu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait