10 Kata Terlarang Untuk Anak

Dalam dunia keluarga, ada banyak hal yang tidak diketahui orang tua yang dapat membentuk watak buruk anak. Hal tersebut tanpa disadari telah tertanam sejak anak dan melekat sampai dia dewasa. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mengatakan kepada audiens -yang notabene ibu-ibu- bahwa sangat penting orang tua untuk dekat dengan anak, salah satunya dengan mengusap daerah privasinya contohnya punggung.

Mengusap daerah privasi akan membuat kedekatan dengan orang tua dan akan membuat anak terbuka kepada orang tua. Masalah-masalah yang dihadapi si anak akan dengan mudah ia ceritakan jika kedekatan itu memang hadir dan si anak merasa nyaman bersama kedua orangtuanya. Uniknya ada peserta yang bertanya bahwa saat anaknya disentuh, si anak merasa tidak nyaman dan cenderung menghindar, “Takut dimarahin, katanya.”, cerita si ibu.

Fenomena seperti ini tidak sedikit kita temui bahkan mungkin kita sendiri yang merasakan. Orang tua dan anak cenderung seperti orang asing di rumah dan anggota keluarganya sendiri. Mengekspresikan cinta menjadi tidak biasa dan kikuk. Sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa orang tua dianggap menjadi masalah bagi anak, sehingga mempersepsikan orang tua itu tidak jauh dari soal marah-marah, galak, egois, tidak mengerti, kolot, menyebalkan, dan lain sebagainya. Bukannya menghormati, menyayangi, namun malah sebaliknya yang didapat.

Semua yang terjadi di atas, adalah akumulasi pendidikan yang dibuat oleh orangtua itu sendiri sejak anak masih kecil hingga ia tumbuh dewasa. Tanpa sadar juga, hal demikian membuat si anak memiliki karakter yang dibuat orang tuanya sendiri semenjak kecil: keras kepala, egois, apatis, dan lain sebagainya. Ada sepuluh kata terlarang yang dapat membuat karakter anak menjadi buruk, karena orang tua membiasakan kata-kata ini hadir di tengah keluarga, kebiasaan buruk ini bernama parentogenik (penyakit orangtua), yaitu:

Menyalahkan. Hal pertama yang menjadi penyakit orang tua adalah menyalahkan. Saat anak melakukan kesalahan, orang tua biasanya sering langsung menyalahkan anak. “Kamu kok sukanya mecahkan piring ya! “, “Selalu aja kamu yang bikin gara-gara.” Saat anak memiliki kekurangan nilai di sekolah, orang tua tiba-tiba mengatakan, “Kamu sih, ga suka belajar!” Demikian hanya akan membuat anak tidak bisa mengklarifikasi hal yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga ia lebih akan cenderung menjadi pribadi masa bodo ke depannya karena beranggapan, “Ah semua yang aku lakukan pasti salah di hadapan orang tua!”

Meremehkan. Tanpa sadar, kadang apa yang dilakukan anak dan menurut kita kecil, bagi anak itu sangat berharga bagi mereka. Orangtua kadang sering meremehkan kemampuan anak, “Halah, kamu bisanya kan cuma berantakin aja!” Hal demikian sering membuat anak menjadi minder dan tidak percaya diri dengan kemampuannya. Meremehkan hanya akan membuat anak merasa tidak lagi berharga akan bakat istimewanya dan tentu kita tahu bahwa setiap anak memiliki bakat tersendiri dalam kehidupannya. Meremehkan pula akan membentuk watak anak yang merasa rendah diri, merasa tak berdaya, dan lain sebagainya.

Membandingkan. Sukakah jika kita sebagai seorang isri/suami dibandingkan dengan lain? Begitupun yang dirasakan anak kita, mereka pin pasti tidak menyukainya. Anak sejatinya tidak suka jika dibandingkan dengan siapapun, termasuk dibandingkan dengan anggota keluarganya sendiri. “Lihat tuh kakak kamu, dia kok jadi anak baik, tapi kamu…” Kemampuan anak tidak bisa disamakan dengan kemampuan anak lainnya, mereka tumbuh dengan bakatnya masing-masing dan keistimewaannya.

Melabel/mencap. Melabel atau mencap anak seperti, “Kamu kok jadi anak ga bisa diandalkan sih, kamu kok bodoh, dll” tanpa sadar kita sedang mensetting anak untuk menjadi orang yang seperti kita ucapkan, terlebih ucapan orang tua adalah do’a bagi anak. Otak manusia sejatinya akan menerima sesuatu yang berulang dari lingkungannya. Jika yang diterima adalah hal yang negatif, maka dia akan cenderung memiliki identitas yang demikian.

Melabel anak tanpa sadar kita sedang mensetting anak untuk menjadi orang yang seperti kita ucapkan
Melabel anak tanpa sadar kita sedang mensetting anak untuk menjadi orang yang seperti kita ucapkan (Sumber gambar : klik disini)

Mengancam. Sering kali, saat kita tidak berdaya untuk mengatur tingkah anak kita, maka senjati terakhir kita adalah mengancam. “Kalau kamu ga kerjakan PR, besok uang jajannya papa potong!” Ancaman-ancaman yang sering diterima anak hanya akan menimbulkan ketakutan dalam dirinya. Ancaman membuat anak akan merasa tertekan dan justru tidak akan senang melakukan sesuatu. Justru anak itu harus dibiasakan dengan atmosfer lingkungan belajar yang menyenangkan dan supportif bagi anak.

Membohongi. Biasanya orangtua saat ingin membuat anaknya tenang, maka ia akan membohongi anak. “Nanti mama belikan ya mobilnya,” Padahal dalam hati hanya basa-basi. Ada sebuah cerita menarik yang sering terjadi di sekitar kita, contohnya saat ada tetangga yang datang ke rumah, lalu kita tidak berkenan bertemu dengan tetangga tersebut. Kita meminta anak kita yang lima tahun membuka pintu sambil berpesan, “Bilang ya, kalau mama ga ada di rumah.” Anak kita lalu mengatakan, “Lho mama kan ada di rumah ma?” lantas orang tuanya dengan enteng mengatakan, “Udah, bilang aja begitu sama dia.”

Saat orang tua tersebut mengulangi hal demikian, anaknya tersebut menyimpan memori tersebut, dan dalam alam bawah sadarnya ia mensetting dirinya, “oh begini cara berbohong yang baik dan benar”, akhirnya karakter berbohong tertanam dalam jiwa anak. Jangan sedikitpun meniatkan dalam hati kita untuk melakukan kebohongan meskipun kecil karena itu akan membuat anak meniru kita.

Mengkritik. Orang tua biasa mengkritik anak. Sering saat anak membersihkan sesuatu, orangtua berkomentar bahwa pekerjaan anak tidak bersih, segala sesuatu yang dikerjakannya tidak tuntas, dan lain-lain. Mengkritik hanya akan membuat anak kembali malas melakukan pekerjaannya karena dalam pikiran anak bahwa pekerjaannya tidak berarti apa-apa untuk orang tuanya.

Menyindir. “Aduh, ada puteri cantik yang sedang duduk manis ya…disana.” Kata ibunya yang sedang merapikan rumah. Kata sindirian sebenarnya membuat orang tua juga semakin geram dengan anak yang kadang tidak merasa dengan bahasa tidak langsungnya juga membuat anak juga sering kali menjadi tidak nyaman. Bicaralah langsung kepadanya justru lebih baik dengan bahasa yang santun dan tulus dalam mengingatkan.

Menganalisa. “Wah nampaknya ada yang sedang pura-pura sedih ya. Padahal kan biasa aja harusnya.” Komentar-komentar seperti ini justru akan membuat anak merasa tidak suka, “Ibu sok tau!” Seharusnya yang baik adalah menanyakan dengan pertanyaan terbuka, “Ada apa dek? Ada masalah yang bisa ayah bantu?”

Menasehati. “Kamu harusnya tidak begini…harusnya begitu…” anak sehari-hari selalu mendengarkan nasihat-nasihat orangtuanya tanpa orangtua tersebut mendengarkan dan memberikan kesempatan anak tuk bicara. Menasihati sesuatu yang sangat penting, namun juga memahami anak tidak jauh lebih penting agar kita mengetahui masalah melalui sudut pandang anak.

Tanpa sadar, akumulasi di atas menjadikan si anak saat dewasa menjadi keras kepala, suka berbohong, tidak terbuka, agresif, suka marah-marah, tidak peduli dengan orangtuanya, dan lain sebagainya. Sekali lagi, seharusnya orangtua menciptakan suasana hangat dan nyaman dalam rumah. Menghargai pendapat anak, memuji kemampuannya, mensupport supaya ia lebih baik, dan lain sebagainya. Selebihnya, akan kita bahas dikemudian.

Dalam kemampuan mendidik anak perlu miliki kesadaran penuh bahwa anak kita adalah cerminan orang tuanya. Orang tua harus merefleksikan jika ada prilaku anak yang kurang baik, maka mungkin saja anak tersebut tidak jauh belajar dari orang tuanya. Orang tua harus mulai merubah diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang barangkali selalu anak perhatikan dengan mendengar, melihat, dan merasakan gerak-gerik kita sebagai orang tua.

Jangan korbankan anak kita karena perilaku orang tuanya yang keliru. Menjadi orang tua adalah role model utama anak saat mereka masih kecil, beranjak dewasa, dan saat mereka menikah dan memiliki anak.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaMenjaga Amanah
Artikel BerikutnyaArah Gerakan Ekonomi Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait